Di sisi lain, tingginya permintaan terhadap solar bersubsidi menunjukkan adanya tekanan akibat perbedaan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Ketika semakin banyak konsumen beralih ke BBM subsidi, kebutuhan terhadap kuota subsidi pun ikut meningkat.
Karena itu, pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu memastikan pasokan yang disebut aman tersebut benar-benar tersedia dan terdistribusi secara merata hingga tingkat SPBU.
Transparansi mengenai stok, kuota, distribusi, serta pola konsumsi BBM bersubsidi juga diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai penyebab antrean.
Dengan meningkatnya mobilitas dan jumlah kendaraan di Lampung, pemerintah perlu mengantisipasi pertumbuhan konsumsi BBM agar antrean panjang tidak menjadi persoalan yang terus berulang.
Jika stok solar memang tersedia dalam kondisi aman, tantangan berikutnya adalah memastikan BBM tersebut dapat diterima SPBU tepat waktu dan diakses masyarakat secara mudah.
Pengawasan terhadap distribusi dan penggunaan BBM bersubsidi juga perlu diperkuat agar subsidi benar-benar diterima masyarakat yang berhak sekaligus mencegah terjadinya ketimpangan pasokan di sejumlah wilayah.
Dengan demikian, indikator stok aman tidak hanya dilihat dari ketersediaan BBM di tingkat pasokan, tetapi juga dari kondisi di lapangan: distribusi lancar, pelayanan SPBU memadai, dan masyarakat tidak harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan solar.