“Kesempatan ini membawa berkah, terutama setelah musim panen selesai. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan dapur dan uang jajan anak sekolah. Kami juga mendapat pengalaman baru dalam merawat tanaman,” ujar Zainal.
Zainal berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Ia juga mengusulkan penanaman pohon buah-buahan yang berpotensi memberikan nilai ekonomi, dengan tetap memperhatikan aturan dan kondisi kawasan taman nasional.
Peluang itu mulai dijajaki Star Energy Geothermal bersama BBTNBBS dan masyarakat. Ke depan, kelompok tani berpotensi terlibat lebih luas, mulai dari penyediaan bibit hingga perawatan dan pemantauan tanaman.
Salah satu pendekatan yang sedang dipertimbangkan adalah memadukan tanaman hutan asli dengan jenis pohon bernilai ekonomi, seperti petai, jengkol, dan durian.
Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan pemulihan ekosistem, serta ketentuan yang berlaku di kawasan taman nasional.
Head of Social Investment, Policy and Communications PT Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan keberhasilan pemulihan hutan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelangsungan hidup tanaman dalam jangka panjang.
“Bagi kami, keberhasilan pemulihan hutan bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan dijaga dalam jangka panjang. Kami ingin masyarakat ikut mengambil peran, sekaligus menjajaki peluang agar kegiatan menjaga hutan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka,” ujar Laksmi.
Dalam program tersebut, sejumlah jenis pohon asli ditanam, di antaranya pulai, damar, meranti, medang, dan merawan. Pemilihan jenis tanaman didasarkan pada kajian lingkungan serta arahan teknis BBTNBBS.
Penanaman menjadi tahap awal dari proses panjang pemulihan ekosistem. Tanaman perlu dirawat dan dipantau agar tumbuh dengan baik serta mendukung keberlangsungan habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Pemulihan kawasan juga diharapkan membantu menghubungkan kembali bagian-bagian hutan yang terpisah, menjaga sumber air, dan memperbaiki kondisi lingkungan secara bertahap.
Star Energy Geothermal menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Dukungan BBTNBBS, kelompok tani, dan masyarakat sekitar menjadi bagian penting untuk memastikan upaya pemulihan berjalan berkelanjutan.
Bagi warga seperti Sugeng dan Zainal, program ini bukan sekadar pekerjaan tambahan. Keterlibatan mereka juga membawa harapan terbukanya peluang ekonomi baru tanpa mengabaikan pentingnya menjaga kelestarian hutan.