BANDAR LAMPUNG — Satria Hiu merupakan julukan populer di Tanah Air untuk salah satu varian legendaris dari lini Suzuki Satria 120R.
Motor ini dikenal memiliki performa tinggi dan desain agresif yang terinspirasi dari sosok predator laut. Kehadirannya menjadi simbol kejayaan motor bebek bermesin dua langkah atau 2-tak di Indonesia.
Suzuki Satria Hiu tercatat sebagai varian terakhir dari generasi Satria bermesin 2-tak yang dipasarkan secara terbatas pada awal 2000-an. Dibandingkan pendahulunya, desain bodi motor ini dibuat lebih tajam dan sporty.
Tampilan depan yang runcing membuat banyak penggemar menyematkan nama “Hiu” karena menyerupai sirip ikan predator.
Motor ini diproduksi dan dipasarkan sekitar 2003 hingga 2005. Usia edarnya terbilang singkat lantaran kebijakan pemerintah terkait standar emisi yang secara bertahap menghentikan penjualan motor 2-tak di Indonesia.
Seiring waktu, Suzuki Satria Hiu mengalami pergeseran fungsi dari kendaraan harian menjadi barang koleksi.
Populasinya yang semakin langka membuat harga unit bekasnya melonjak, bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, bergantung pada kondisi mesin, orisinalitas, dan kelengkapan suku cadang.
Dari sisi teknis, Satria Hiu mengandalkan mesin 2-tak berkapasitas sekitar 120 cc dengan konfigurasi satu silinder dan transmisi manual enam percepatan.
Mesin ini mampu menghasilkan tenaga sekitar 13,5 PS pada 8.000 rpm, menghadirkan akselerasi spontan yang menjadi ciri khas motor 2-tak dan terasa agresif di kelasnya.
Bobotnya yang ringan, sekitar 101 kilogram, mendukung kemampuan manuver dan stabilitas saat dikendarai. Sistem pendingin udara serta rangka yang ringan semakin menegaskan karakter sporty motor ini, terutama saat melaju di kecepatan menengah hingga tinggi.
Dari segi tampilan, Suzuki Satria Hiu tampil jauh berbeda dibandingkan motor bebek konvensional pada masanya.
Bodi ramping, garis desain tajam, serta lampu depan yang agresif membuatnya mudah dikenali.