Sementara itu, Spanyol mengandalkan talenta muda Lamine Yamal yang tampil luar biasa sepanjang kompetisi.
Kecepatan, kreativitas, serta kemampuannya menciptakan peluang membuat pemain berusia 19 tahun tersebut menjadi motor serangan La Roja.
Pertemuan Messi dan Yamal pun menjadi simbol peralihan generasi dalam sepak bola dunia, mempertemukan legenda hidup dengan calon bintang masa depan.
Final diperkirakan akan ditentukan oleh pertarungan di sektor tengah. Spanyol diprediksi tetap mengandalkan penguasaan bola, sirkulasi umpan cepat, dan permainan kolektif untuk membuka ruang di pertahanan Argentina.
Sebaliknya, Argentina kemungkinan memilih bermain lebih sabar sambil menunggu kesempatan melakukan transisi cepat.
Kreativitas Messi dan efektivitas penyelesaian akhir menjadi kekuatan utama yang bisa menentukan jalannya pertandingan.
Apabila Spanyol mampu mengendalikan tempo sejak awal, peluang mereka untuk mendominasi laga akan semakin besar.
Namun jika Argentina berhasil memanfaatkan ruang kosong saat serangan balik, ancaman terhadap pertahanan La Roja akan sangat berbahaya.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memastikan timnya tidak akan menerapkan penjagaan khusus terhadap Lionel Messi.
Menurutnya, pemain sekaliber Messi hanya bisa dihentikan melalui kerja sama seluruh tim, bukan dengan membebankan tugas kepada satu pemain saja.
Di sisi lain, Argentina diperkirakan kembali menurunkan komposisi terbaik dengan Messi sebagai pusat permainan yang didukung pemain-pemain berpengalaman yang telah membawa La Albiceleste meraih gelar dunia sebelumnya.
Final diperkirakan berlangsung ketat sejak menit pertama. Spanyol kemungkinan lebih banyak menguasai bola, sedangkan Argentina akan mengandalkan efektivitas serangan balik dan pengalaman para pemain senior.