Beberapa aplikasi juga memanfaatkan data perilaku pengguna secara anonim. Praktik ini dilakukan dengan tetap mematuhi ketentuan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Data yang dikumpulkan umumnya berupa pola penggunaan aplikasi, preferensi konten, hingga wilayah penggunaan tanpa menyertakan identitas pribadi pengguna. Informasi tersebut kemudian diolah menjadi data agregat yang dimanfaatkan perusahaan riset maupun pengiklan untuk menyusun strategi pemasaran yang lebih efektif.
Selain itu, aplikasi dengan komunitas pengguna yang kuat sering menjalin kemitraan eksklusif dengan berbagai merek. Kerja sama tersebut dapat berupa sponsor utama maupun promosi produk yang relevan dengan karakteristik pengguna aplikasi.
Di sisi lain, terdapat pula aplikasi gratis yang memberikan imbalan kepada pengguna. Pendapatan aplikasi jenis ini umumnya berasal dari pembagian hasil iklan.
Pengguna biasanya memperoleh hadiah dengan menonton video iklan, mengisi survei, menyelesaikan tugas harian, mengundang teman melalui tautan referensi, atau memainkan gim yang tersedia.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu berhati-hati dalam memilih aplikasi yang menawarkan imbalan. Pastikan aplikasi tersedia secara resmi di Google Play Store atau Apple App Store, memiliki ulasan yang baik, tidak meminta setoran dana di awal, tidak meminta data sensitif seperti PIN maupun kode OTP, serta menyediakan kebijakan privasi yang jelas.
Pada akhirnya, keberhasilan aplikasi gratis bergantung pada jumlah pengguna dan efektivitas strategi monetisasi yang diterapkan. Semakin besar basis pengguna, semakin besar pula peluang pengembang memperoleh pendapatan dari berbagai sumber tanpa harus mengenakan biaya kepada seluruh pengguna.
Karena itu, saat menggunakan aplikasi gratis, pengguna sebenarnya menjadi bagian dari ekosistem digital yang saling menguntungkan antara pengembang, pengiklan, mitra bisnis, dan komunitas pengguna.