Inovasi tersebut menjadi salah satu kelebihan utama Yamaha dibandingkan banyak motor 2-tak lain pada era yang sama karena memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sehari-hari.
Dari sisi tampilan, Yamaha V75 mengusung desain motor bebek klasik yang sederhana namun fungsional.
Motor ini menggunakan rangka underbone dengan tangki bahan bakar yang ditempatkan di bawah jok, lampu depan berbentuk bulat, jok memanjang untuk dua penumpang, serta velg jari-jari yang menjadi ciri khas motor era 1970-an.
Panel instrumen dibuat sederhana sehingga mudah dibaca, sementara penggunaan komponen mekanis yang minim membuat proses perawatan maupun perbaikan dapat dilakukan dengan mudah.
Meski jauh dari kesan modern, desain klasik tersebut justru menjadi salah satu daya tarik utama Yamaha V75 di kalangan pecinta motor vintage saat ini.
Pada masa kejayaannya, Yamaha V75 digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja, pedagang, hingga warga di daerah pedesaan.
Mesin yang sederhana membuat motor ini mudah diperbaiki di bengkel umum, sedangkan konsumsi bahan bakarnya tergolong efisien untuk ukuran motor bermesin dua langkah.
Ketangguhan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masih cukup banyak unit Yamaha V75 yang bertahan hingga sekarang, meski sebagian besar telah menjalani proses restorasi.
Seiring bertambahnya usia, Yamaha V75 kini berubah status dari kendaraan harian menjadi salah satu motor klasik yang memiliki nilai koleksi tinggi.
Unit dengan nomor rangka dan nomor mesin yang masih sesuai bawaan pabrik, dilengkapi komponen orisinal, serta memiliki riwayat restorasi yang baik mampu dihargai cukup tinggi di pasar motor klasik.
Kelangkaan suku cadang asli juga turut meningkatkan nilai ekonominya sehingga semakin diminati para kolektor.
Berbagai komunitas motor klasik di Indonesia masih rutin menampilkan Yamaha V75 dalam ajang kontes restorasi, pameran otomotif, hingga kegiatan touring lintas daerah sebagai bentuk pelestarian sejarah otomotif nasional.