BANDAR LAMPUNG – Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menemukan populasi nyamuk Aedes aegypti yang telah mengalami resistensi terhadap jenis insektisida tertentu di Kelurahan Rajabasa Nyunyai, Kecamatan Rajabasa.
Temuan tersebut diketahui berdasarkan hasil penelitian laboratorium entomologi kesehatan Bengkulu. Kondisi ini menjadi perhatian karena Rajabasa Nyunyai merupakan salah satu wilayah yang rutin mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) setiap tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi A. Tumenggung mengatakan, resistensi nyamuk terhadap insektisida diduga terjadi akibat penggunaan bahan kimia yang sama secara terus-menerus tanpa rotasi.
"Hasil penelitian menunjukkan pada titik tertentu di Rajabasa Nyunyai ditemukan populasi nyamuk yang sudah resisten terhadap bahan kimia atau insektisida tertentu karena digunakan terus-menerus tanpa melakukan rotasi," kata Muhtadi, Senin 10 Agustus 2026.
Selain menemukan resistensi terhadap insektisida, penelitian tersebut juga mendeteksi keberadaan virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi penularan ketika nyamuk pembawa virus menggigit manusia.
"Kondisi ini menjadi perhatian karena efektivitas penggunaan insektisida bisa menurun apabila masyarakat memakai jenis yang sama dalam waktu lama," ujarnya.
Muhtadi menyebut Rajabasa Nyunyai termasuk wilayah dengan kasus DBD yang cukup tinggi. Sepanjang 2025, kelurahan tersebut mencatat 19 kasus DBD.
Jumlah tersebut masih berada di bawah Kelurahan Segalamider yang menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni mencapai 22 kasus.
"Rajabasa Nyunyai memang menjadi salah satu wilayah yang rutin mencatat kasus DBD setiap tahun sehingga masuk kategori endemis," jelasnya.
Secara keseluruhan, dari 126 kelurahan di Kota Bandar Lampung, sebanyak 68 kelurahan masuk kategori endemis DBD. Kemudian 55 kelurahan tergolong sporadis, sementara tiga kelurahan masih tercatat bebas kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Tiga wilayah yang masih bebas kasus DBD tersebut yakni Bumi Raya, Jagabaya 1, dan Talang.
Menurut Muhtadi, tingginya risiko penularan DBD di Bandar Lampung dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya kepadatan permukiman yang membuat nyamuk lebih mudah menjangkau rumah-rumah warga.