BANDAR LAMPUNG — Harga emas di pasar spot masih bergerak volatil dalam jangka pendek meski sempat mencatat kenaikan dalam beberapa hari terakhir, harga emas spot berada di kisaran US$4.394 per ons troi, melemah 0,48% secara harian, tetapi masih mencatat penguatan sekitar 6% dalam tujuh hari terakhir.
Di tengah sentimen fundamental yang cenderung mendukung emas, analisis teknikal menunjukkan adanya potensi koreksi dalam jangka pendek. Pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi sejumlah faktor yang masih menopang harga emas.
Namun, dari sisi teknikal, harga emas berpeluang melemah setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di atas resistance penting US$4.417 per ons troi.
Harga sebelumnya sempat berupaya menembus resistance tersebut. Namun, emas tidak mampu mempertahankan posisi di atas level US$4.417 sehingga membentuk false break, yakni kondisi ketika harga sempat menembus resistance tetapi kemudian kembali bergerak di bawah level tersebut.
False break menjadi sinyal yang perlu diperhatikan karena menunjukkan tekanan beli belum cukup kuat untuk mendorong harga menuju area yang lebih tinggi. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu aksi ambil untung dari sebagian trader setelah harga mengalami penguatan.
Apabila tekanan jual meningkat, harga emas berpeluang bergerak menuju support terdekat di US$4.348 per ons troi.
Jika mampu bertahan di sekitar level support tersebut dan kembali muncul momentum pembelian, peluang terjadinya rebound teknikal masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual semakin kuat hingga menembus support US$4.348, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi pelemahan lebih lanjut.
Fundamental Masih Menopang Harga Emas
Meski menghadapi risiko koreksi secara teknikal, kondisi fundamental masih memberikan dukungan terhadap prospek harga emas. Salah satu faktor utamanya adalah pelemahan dolar AS yang membuat emas relatif lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah juga mendorong pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan harga emas. Ketika peluang kenaikan suku bunga semakin berkurang, daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas cenderung meningkat.
Selain kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik juga menjadi katalis penting bagi harga emas. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta ketidakpastian terkait kondisi Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi global.