Udara Bandar Lampung Masuk Kategori Tidak Sehat, PM2.5 Capai 36,9 Mikro­gram

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak lanjutan dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Arif Setiawan - Minggu, 13 Sep 2026 - 18:53 WIB
Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polutan.
Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polutan. - Poto Arif Setiawan

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

Advertisements

Kendati demikian, kadar PM10 di kawasan tersebut justru relatif rendah dan masih memenuhi baku mutu, yakni berada pada kisaran 11-13 mikrogram per meter kubik.

Sebaliknya, lonjakan kadar PM10 paling tinggi terpantau di kawasan Pasar Ambon dan sekitarnya. Catatan tertinggi ditemukan di Kelurahan Teluk Betung dengan konsentrasi mencapai 701 mikrogram per meter kubik.

Kadar PM10 tinggi juga tercatat di Persawahan sebesar 692 mikrogram per meter kubik, Puskesmas Pasar Ambon 552 mikrogram per meter kubik, Sumur Putri 543 mikrogram per meter kubik, Gedung Pakuan 528 mikrogram per meter kubik, serta Talang 493 mikrogram per meter kubik.

Peningkatan kadar PM10 yang melampaui ambang batas juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain, di antaranya Bakung, kawasan Kupang yang meliputi Kupang Kota, Kupang Teba, dan Kupang Raya, Gunung Mas, Kecamatan Panjang, Kedaton, Way Kandis, Kemiling, Korpri, Pinang Jaya, Rajabasa Indah, Simpur, Sukamaju, Sukaraja, hingga Bumi Waras.

Advertisements

Meski demikian, Muhtadi memastikan tidak seluruh wilayah di Bandar Lampung mengalami paparan polusi dengan kadar tinggi.

Sejumlah kawasan masih tercatat aman dan memenuhi baku mutu untuk seluruh parameter yang diukur. Wilayah tersebut antara lain Beringin Raya, Campang Raya, Kampung Sawah, Labuhan Ratu, Palapa, Sukarame, Way Halim, dan wilayah sekitarnya.

Muhtadi menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat secara berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak lanjutan dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

 

Advertisements

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements