Karena tidak memiliki lensa telefoto, kemampuan zoom sepenuhnya mengandalkan digital zoom. Untungnya, pembesaran dua kali masih menghasilkan detail yang cukup baik.
Untuk fotografi malam hari, kamera utama mampu menghasilkan gambar minim noise dengan pencahayaan yang cukup stabil.
Namun, kualitas kamera ultrawide justru terasa kurang memuaskan. Ketajamannya menurun drastis saat kondisi cahaya minim.
Sementara itu, kamera makro dinilai hanya menjadi pelengkap pada modul kamera belakang.
Dukungan AI dan Update Hingga 6 Tahun
Galaxy A37 menjalankan sistem operasi One UI 8.5 terbaru.
Samsung turut menyematkan asisten Bixby berbasis Perplexity AI yang membuat perangkat lebih responsif dalam memahami perintah bahasa natural pengguna.
Meski demikian, beberapa fitur editing berbasis AI tingkat lanjut ternyata belum tersedia pada perangkat ini.
Sebagai kompensasi, Samsung menjanjikan dukungan pembaruan sistem operasi hingga enam tahun, yang menjadi salah satu nilai jual utama Galaxy A37.
Kesimpulan: Solid, Tapi Kurang Menarik di Harganya
Samsung Galaxy A37 sebenarnya menawarkan paket smartphone yang cukup lengkap.
Perangkat ini unggul pada sektor layar terang, desain premium, sertifikasi IP68, serta daya tahan baterai yang impresif. Kamera utamanya juga mengalami peningkatan dibanding generasi sebelumnya.
Namun, daya tariknya terasa berkurang karena harga jual yang cukup tinggi.
Penggunaan chipset lama membuat performanya sulit bersaing dengan kompetitor di kelas menengah premium. Bahkan, Galaxy A56 justru terlihat lebih menarik dengan peningkatan performa yang lebih signifikan.