LAMPUNG BARAT – Masyarakat Kecamatan Waytenong dan wilayah sekitarnya mendesak PT Pertamina segera membuka kembali penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Bio Solar di SPBU Karangagung.
Hingga memasuki hari keempat sejak penghentian sementara distribusi dilakukan, pasokan kedua jenis BBM subsidi tersebut masih belum tersedia. Kondisi ini mulai dikeluhkan warga karena SPBU Karangagung menjadi salah satu titik utama pelayanan BBM di jalur lintas provinsi.
Penghentian distribusi dilakukan setelah terjadi antrean panjang kendaraan di SPBU Karangagung yang sempat menyebabkan kemacetan dan menjadi sorotan publik hingga viral di media sosial pada Senin (1/6).
Petugas IT PT Pertamina, Boby, yang melakukan survei di lokasi menjelaskan bahwa penghentian penyaluran BBM subsidi merupakan keputusan Sales Branch Manager (SBM) Pertamina dan hanya bersifat sementara.
“Penutupan ini sifatnya sementara. Tujuannya untuk menetralisir kondisi di lapangan sekaligus mengevaluasi penyebab antrean panjang yang terjadi. Kami juga sedang menyiapkan langkah-langkah agar ke depan antrean kendaraan tidak lagi mengganggu arus lalu lintas,” kata Boby.
Menurutnya, Pertamina saat ini tengah menghimpun berbagai masukan dan aspirasi dari sejumlah pihak guna mencari solusi terbaik terkait persoalan antrean kendaraan yang terjadi.
“Kami sudah mengumpulkan informasi dan masukan dari berbagai pihak. Salah satu opsi yang sedang dibahas adalah pengaturan pelayanan BBM subsidi secara bergantian, misalnya mendahulukan pelayanan Bio Solar sampai habis, kemudian dilanjutkan dengan pelayanan Pertalite. Skema ini masih dalam tahap evaluasi,” ujarnya.
Sementara itu, petugas SPBU Karangagung, Ulil, mengakui antrean kendaraan pada Senin lalu memang jauh lebih padat dibandingkan hari-hari biasa. Lonjakan tersebut dipicu banyaknya kendaraan angkutan dari luar daerah yang melakukan pengisian BBM di lokasi tersebut.
“Pada hari itu memang terjadi lonjakan kendaraan yang cukup tinggi. Banyak truk dan kendaraan angkutan kelapa sawit dari Bengkulu maupun Kabupaten Pesisir Barat yang melakukan pengisian Bio Solar di sini karena stok di beberapa SPBU yang mereka lewati sebelumnya kosong atau terbatas,” jelas Ulil.
Ia menambahkan, antrean kendaraan saat itu bahkan memakan hampir separuh badan jalan nasional. Kondisi tersebut terjadi karena karakteristik jalan yang relatif sempit sehingga kendaraan tidak bisa terlalu menepi.
“Kalau kendaraan terlalu rapat ke sisi jalan, risikonya bisa tergelincir karena kondisi jalan yang sempit. Itu sebabnya antrean terlihat memakan badan jalan,” terangnya.
Ulil juga menegaskan bahwa pihak SPBU tidak memiliki kewenangan untuk memprioritaskan kendaraan lokal dibanding kendaraan dari luar daerah.