BANDAR LAMPUNG – Peringatan Hari Konservasi Alam Sedunia (World Nature Conservation Day) yang diperingati setiap 28 Juli menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Di Kota Bandar Lampung, isu konservasi dinilai semakin mendesak seiring berkurangnya luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berpotensi meningkatkan risiko bencana.
Ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung, Agus Djumadi, menegaskan pembangunan infrastruktur maupun kawasan perkotaan harus tetap memperhatikan aspek lingkungan agar tidak mengorbankan keberlanjutan kota di masa depan.
"Bandar Lampung sudah berupaya keras dengan perkembangan dinamika kota yang pesat secara pembangunan, baik infrastruktur maupun noninfrastruktur. Paling tidak ada upaya-upaya kuat dari Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menjaga konsentrasi terkait dengan lingkungan," ujar Agus Djumadi pada Selasa 28 Juli 2026.
Agus menyebut penyusutan luas Ruang Terbuka Hijau menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kota Bandar Lampung.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan agar tidak memicu dampak lingkungan yang lebih luas.
Ia menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam mempertahankan kawasan hijau melalui kebijakan yang didukung implementasi di lapangan.
"Dimulai mungkin ini menjaga dan konsisten terhadap Ruang Terbuka Hijau yang saat ini kita memahami dari 14 persen menjadi 8 persen. Jika ini tidak punya komitmen dan konsisten secara regulasi maupun fisik, maka ini akan membawa dampak lebih luas, terutama bencana di Kota Bandar Lampung," tegasnya.
Menurut Agus, keberadaan RTH memiliki peran strategis sebagai daerah resapan air, pengendali suhu kawasan perkotaan, sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem.
Terkait kondisi terkini Ruang Terbuka Hijau di Bandar Lampung, Agus menyampaikan secara umum luas RTH berada di kisaran 11 persen.
Namun, ia mengakui terdapat hasil kajian akademisi yang menunjukkan persentasenya diduga lebih rendah.
"Iya, kalau secara umum ini ada sekitar 11 persen. Walaupun dari kalangan akademisi sudah menyatakan kurang dari situ," katanya.