BANDAR LAMPUNG – Harga emas dunia mencatat kenaikan tipis pada akhir pekan setelah tekanan jual mulai mereda. Penguatan logam mulia didukung oleh melemahnya harga minyak dunia serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Namun, penguatan dolar AS masih menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga emas.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan, harga emas spot berada di kisaran US$4.053 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka pengiriman Agustus 2026 di bursa Comex New York diperdagangkan di sekitar US$4.055 per ons.
Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang beragam. Aktivitas bisnis sepanjang Juli meningkat ke level tertinggi dalam delapan bulan, penjualan rumah baru pada Juni juga mengalami kenaikan, sedangkan klaim pengangguran awal tetap berada di angka 187.000. Kondisi tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang masih cukup solid.
Rangkaian data ekonomi itu meredam ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve (The Fed) segera melonggarkan kebijakan moneternya. Padahal sebelumnya, inflasi yang tercermin melalui indeks CPI dan PPI menunjukkan tren melandai. Di sisi lain, volatilitas harga minyak masih memunculkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi.
Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan. Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya tetap terbuka apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,678 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) ditutup di kisaran 101,47 poin.
Faktor geopolitik juga masih menjadi perhatian investor. Ketegangan di Selat Hormuz terus berlangsung dengan aktivitas pelayaran yang berada di bawah tekanan akibat faktor militer, maritim, dan diplomatik. Meski demikian, jalur pelayaran strategis tersebut hingga kini masih tetap beroperasi.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent turun ke sekitar US$96,78 per barel setelah sebelumnya sempat menembus US$102 per barel. Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$89,31 per barel.
Sementara itu, harga emas domestik di Vietnam mengalami fluktuasi yang cukup tajam sepanjang pekan lalu. Pada penutupan perdagangan 25 Juli 2026, harga emas batangan SJC berada di kisaran 137,5 juta hingga 141,5 juta VND per tael untuk harga beli dan jual. Dibandingkan sesi sebelumnya, harga beli naik 2 juta VND, sedangkan harga jual meningkat 1 juta VND.
Harga cincin emas SJC ukuran 1–5 tael diperdagangkan pada kisaran 137 juta hingga 141 juta VND per tael. Dibandingkan perdagangan sebelumnya, harga beli meningkat 2,5 juta VND dan harga jual naik 1,5 juta VND per tael.
Meski mengalami kenaikan harian, secara mingguan harga emas batangan SJC masih mencatat penurunan sebesar 7 juta VND pada harga beli dan 6 juta VND pada harga jual. Sementara itu, harga cincin emas SJC turun sekitar 6 juta VND pada sisi pembelian maupun penjualan.
Harga cincin emas 9999 milik DOJI tercatat berada di kisaran 138,8 juta hingga 142,5 juta VND per tael. Harga beli naik 800.000 VND, sedangkan harga jual tidak mengalami perubahan dibandingkan sesi sebelumnya.