Pada awal sesi, perangkat mampu menyentuh 60 FPS, sebelum akhirnya stabil di kisaran 40 FPS selama eksplorasi kota.
Wuthering Waves
Game ini menjadi tantangan terberat bagi Galaxy A57.
Di area Huang Long, permainan masih cukup nyaman dengan rata-rata 45 FPS.
Namun saat memasuki wilayah Laha Harroy, performa mulai menurun drastis.
Beberapa hasil yang tercatat antara lain:
- FPS turun menjadi sekitar 29 FPS.
- Penurunan performa semakin terasa ketika pertempuran berlangsung.
- Saat memasuki area akademi, frame rate merosot hingga di bawah 20 FPS.
- Aplikasi akhirnya mengalami crash dan menutup secara otomatis.
Manajemen Suhu Menjadi Nilai Plus
Salah satu temuan paling menarik selama pengujian adalah kemampuan sistem pendingin Samsung Galaxy A57.
Sepanjang pengujian terhadap 10 game tersebut, suhu permukaan perangkat tidak pernah melampaui 38 derajat Celsius.
Hal ini menunjukkan Samsung lebih memilih menjaga stabilitas suhu dibanding memaksimalkan performa dalam waktu lama. Sistem thermal management secara otomatis menyesuaikan frame rate ketika suhu mulai meningkat sehingga perangkat tetap nyaman digunakan.
Kesimpulan
Hasil pengujian menunjukkan Samsung Galaxy A57 mampu menjalankan mayoritas game populer dengan performa yang stabil. Mobile Legends, PUBG Mobile, eFootball hingga Honkai: Star Rail dapat dimainkan dengan nyaman, sementara game yang sangat berat seperti Wuthering Waves mulai menunjukkan batas kemampuan Exynos 1680.
Meski belum mampu memberikan performa maksimal pada seluruh game AAA, anggapan bahwa chipset Exynos selalu panas dan lambat tidak sepenuhnya terbukti. Dengan pengaturan grafis yang sesuai, Samsung Galaxy A57 masih menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan smartphone kelas menengah dengan kemampuan gaming yang seimbang.