Sebagai perbandingan, limusin Cadillac pada periode yang sama dibanderol jauh lebih rendah.
Perbedaan harga tersebut memperlihatkan bahwa Chrysler Imperial Ghia memang tidak dibuat untuk pasar umum.
Mobil ini ditujukan bagi kalangan elite yang menginginkan kendaraan dengan tingkat eksklusivitas jauh di atas mobil mewah produksi massal.
Status eksklusif Chrysler Imperial Ghia semakin kuat karena sejumlah unitnya memiliki keterkaitan dengan tokoh penting dunia.
Mobil-mobil tersebut diketahui pernah digunakan atau dimiliki oleh kalangan kerajaan, pejabat, tokoh politik dan orang-orang berpengaruh.
Salah satu kisah yang menarik perhatian di Indonesia adalah keberadaan Chrysler Imperial Ghia tahun 1959 yang dikaitkan dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Mobil tersebut disebut berasal dari basis Imperial Crown Convertible 1959 yang kemudian dikonversi menjadi limusin empat pintu oleh Ghia.
Dalam sejumlah catatan kolektor, kendaraan tersebut dikaitkan sebagai hadiah dari Raja Arab Saudi kepada Soekarno.
Kisah-kisah seperti inilah yang membuat setiap Chrysler Imperial Ghia tidak hanya bernilai sebagai mobil klasik, tetapi juga memiliki cerita sejarah yang melekat pada perjalanan masing-masing unit.
Berbeda dengan mobil produksi massal, Chrysler Imperial Ghia dibuat dalam jumlah sangat sedikit.
Selama kerja sama Chrysler dan Ghia pada 1957 hingga 1965, limusin dikerjakan secara khusus dengan proses yang jauh lebih rumit dibandingkan kendaraan biasa.