Menurutnya, kebutuhan anak di sekolah juga tidak berhenti pada seragam. Kehadiran program MBG diharapkan membantu memenuhi kebutuhan makanan siswa sekaligus menjadi tambahan motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar.
“Kalau kemarin mungkin malu enggak berangkat sekolah karena enggak ada uang jajan. Sekarang apalagi yang mau dijajanin. Sudah ada nasi, sudah ada ayam, sudah ada jeruk. Lengkap di Makan Bergizi Gratis,” lanjutnya.
Di sisi lain, Parosil mengingatkan agar bantuan seragam gratis tidak diikuti dengan munculnya berbagai pungutan atau kebutuhan tambahan yang justru kembali membebani orang tua siswa.
Ia meminta kepala sekolah, guru, dan komite sekolah memastikan program tersebut benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Saya sampaikan di hadapan kepala sekolah, para guru dan para komite agar program ini tepat sasaran, tepat manfaat, tepat mutu dan bisa meringankan orang tua. Jangan lagi banyak beban-beban yang lain,” kata Parosil.
Ia juga menyoroti masih adanya sekolah yang menghimpun komite untuk pengadaan pakaian olahraga maupun atribut lainnya.
“Masih ada sekolah ini yang ngumpulkan komite untuk dana membeli kaos olahraga. Silakan, saya tidak melarang. Tapi kalau menurut Pak Bupati, biarkanlah bebas mereka memakai baju apa saja,” ujarnya.
Menurut Parosil, persoalan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, apabila tidak dikendalikan, kewajiban tambahan justru berpotensi mengurangi manfaat dari program seragam gratis yang telah diberikan pemerintah.
“Jangan sampai ada orang tuanya ngomong, enggak ada gunanya seragam gratis tiga setel dari Pak Bupati, buktinya kita masih iuran juga beli baju olahraga. Hal ini jangan sampai terjadi,” pungkasnya.
Program seragam gratis di Sekincau sekaligus menjadi upaya Pemerintah Kabupaten Lampung Barat memastikan kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan.
Melalui bantuan tersebut, pemerintah berharap siswa dapat datang ke sekolah dengan pakaian yang layak dan rasa percaya diri yang sama, sementara orang tua mendapat keringanan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak.