Akademisi Unila: UMKM Lampung Terancam, Daya Beli Melemah Akibat Kenaikan BBM

Kenaikan harga BBM dinilai memicu inflasi dan meningkatkan risiko kemiskinan di daerah.
Krisna Jeri - Rabu, 10 Jun 2026 - 19:20 WIB
Akademisi FEB Unila menilai kenaikan BBM berpotensi menekan daya beli dan mengancam kelangsungan UMKM.
Akademisi FEB Unila menilai kenaikan BBM berpotensi menekan daya beli dan mengancam kelangsungan UMKM. - Foto Istimewa

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

BANDAR LAMPUNG – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai berpotensi memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan memberi tekanan serius terhadap daya beli masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, menilai kebijakan kenaikan harga BBM memiliki dampak berantai yang luas terhadap perekonomian daerah maupun nasional.

Menurut Usep, efek awal yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga berbagai komoditas kebutuhan sehari-hari yang berujung pada melemahnya daya beli.

“Kenaikan harga BBM itu dampaknya berantai. Biaya transportasi naik, kemudian harga barang ikut naik karena biaya distribusi meningkat. Ketika harga-harga naik, daya beli masyarakat menurun dan dalam jangka panjang dapat meningkatkan angka kemiskinan,” ujarnya pada Rabu, 10 Juni 2026. 

Advertisements

Usep menjelaskan, secara makro, kenaikan harga BBM akan memicu efek domino pada berbagai sektor usaha. Biaya produksi meningkat, sementara kemampuan konsumsi masyarakat justru menurun karena harga kebutuhan pokok semakin mahal.

Ia menilai kondisi tersebut berisiko memperlambat perputaran ekonomi, terutama di daerah yang bergantung pada sektor perdagangan dan jasa. Ketika masyarakat menahan belanja, aktivitas usaha ikut tertekan.

Di Provinsi Lampung, Usep menilai pelaku usaha mikro berada pada posisi paling rentan menghadapi dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM. Kenaikan biaya operasional tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan usaha.

“Data menunjukkan usaha mikro menjadi kurang stabil ketika terjadi kenaikan harga BBM. Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang membuat pelaku usaha kecil menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan usahanya,” katanya.

Advertisements

Ia menyebut pedagang makanan, usaha katering, hingga warung tradisional harus menghadapi kenaikan harga bahan baku dan ongkos distribusi.

Namun, di sisi lain, mereka kerap kesulitan menaikkan harga jual karena konsumen semakin sensitif terhadap harga.

Selain UMKM, sektor transportasi dan logistik dipastikan merasakan dampak langsung dari kenaikan BBM.

Pengemudi ojek daring, angkutan barang, hingga perusahaan logistik harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi.

Advertisements

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements