Sektor ritel dan kuliner juga diperkirakan mengalami penurunan penjualan karena masyarakat cenderung mengurangi belanja non-esensial.
Sementara itu, di sektor pertanian, biaya distribusi hasil panen meningkat, tetapi harga jual di tingkat petani belum tentu naik secara proporsional.
Usep menegaskan, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak. Penghasilan yang relatif tetap membuat mereka harus mengalokasikan porsi belanja lebih besar untuk transportasi dan kebutuhan pokok.
“Daya beli kelompok berpenghasilan rendah akan paling tertekan karena penghasilan mereka relatif tetap, sementara harga barang dan jasa terus meningkat,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa kebijakan perlindungan sosial yang kuat, kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran.
Jika UMKM tidak mampu bertahan, risiko pengurangan tenaga kerja hingga penutupan usaha menjadi semakin besar.
“Jika UMKM tidak mampu bertahan menghadapi kenaikan biaya operasional, maka risiko pengurangan tenaga kerja hingga penutupan usaha bisa terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperbesar angka pengangguran dan kemiskinan,” pungkasnya.