BANDAR LAMPUNG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha hingga masyarakat luas.
Berdasarkan data resmi Bank Indonesia, pada Kamis, 4 Juni 2026, kurs rupiah tercatat berada di level Rp18.039 per dolar AS.
Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir sekaligus menandai tembusnya dolar AS di atas ambang psikologis Rp18.000.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak, menilai pelemahan rupiah tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional maupun daerah, khususnya Provinsi Lampung yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor.
Dr. Usep menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah akan langsung berimbas pada kenaikan harga barang impor.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi perekonomian Lampung karena banyak sektor produktif masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
“Nilai tukar rupiah turun terhadap dolar tentu berdampak bagi ekonomi kita, termasuk Lampung, baik secara langsung maupun tidak langsung. Rupiah melemah berarti harga barang impor akan naik,” ujarnya pada Jumat 05 Juni 2026.
Ia mencontohkan sektor pertanian dan peternakan di Lampung yang masih menggunakan pupuk, pakan ternak, bahan bakar minyak, hingga mesin pertanian impor.
Ketergantungan tersebut menyebabkan biaya produksi ikut terdongkrak saat nilai tukar melemah.
“Kebanyakan faktor produksi itu impor. Hal ini akan menyebabkan biaya produksi naik, dan mau tidak mau harga barang hasil produksi juga ikut naik,” lanjut Dr. Usep.
Kenaikan harga barang dan jasa tersebut dinilai berpotensi mendorong inflasi, yang pada akhirnya akan menekan kemampuan belanja masyarakat.
Lebih jauh, Dr. Usep menilai pelemahan rupiah yang memicu inflasi dapat memperburuk kondisi sosial ekonomi, terutama bagi kelompok berpendapatan tetap.