Dana Hibah Pramuka Rp1 Miliar Mengalir, Kepala Sekolah Tetap Dipalak Rp1,5 Juta

Polemik kegiatan Pramuka Kota Bandar Lampung mencuat setelah kepala sekolah diwajibkan hadir dan dibebani biaya di tengah krusialnya SPMB.
Krisna Jeri - Kamis, 25 Jun 2026 - 13:54 WIB
Terima Hibah 1 M kegiatan Kwartir Cabang Pramuka yang menuai sorotan akibat pungutan biaya kepada kepala sekolah di tengah proses SPMB.
Terima Hibah 1 M kegiatan Kwartir Cabang Pramuka yang menuai sorotan akibat pungutan biaya kepada kepala sekolah di tengah proses SPMB. - Sumber: Ilustrasi

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

Advertisements

Di lapangan, para kepala sekolah dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, mereka bertanggung jawab penuh memastikan proses SPMB berjalan tertib, transparan, dan responsif.

Di sisi lain, mereka harus meninggalkan sekolah demi memenuhi agenda kepramukaan.

“Sekarang sekolah sedang sibuk-sibuknya mengurus SPMB. Banyak hal krusial yang harus dipantau langsung oleh kepala sekolah. Tapi di saat yang sama kami diwajibkan mengikuti kegiatan ini,” keluhnya.

Situasi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya perencanaan dan minimnya sensitivitas kebijakan. Pelaksanaan kegiatan di momen paling krusial bagi sekolah dianggap tidak berpihak pada kebutuhan layanan pendidikan.

Advertisements

Sejumlah pertanyaan pun mengemuka. Atas dasar apa angka Rp1,5 juta ditetapkan? Digunakan untuk kebutuhan apa saja? Apakah pungutan tersebut bersifat wajib atau hanya imbauan yang sulit ditolak? Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka yang menjawab kegelisahan para kepala sekolah.

“Kalau memang ada anggaran Rp1 miliar, seharusnya dijelaskan penggunaannya untuk apa saja. Jangan sampai kepala sekolah masih dibebani biaya tambahan tanpa kejelasan,” tegasnya.

Ketiadaan transparansi justru memunculkan kecurigaan publik. Jangan sampai kegiatan yang mengusung nilai pendidikan karakter dan kepramukaan tercoreng oleh praktik yang dinilai tidak akuntabel.

Kini, sorotan tertuju pada Kwarcab Pramuka dan KONI Kota Bandar Lampung serta pihak-pihak terkait.

Advertisements

Publik menanti penjelasan resmi yang rinci dan terbuka mengenai sumber anggaran, mekanisme pembiayaan, serta dasar penarikan kontribusi dari sekolah.

Jika tidak segera dijelaskan secara akuntabel, polemik ini berpotensi melebar.

Lebih dari sekadar soal Rp1,5 juta, persoalan ini menyangkut integritas pengelolaan anggaran publik dan kepercayaan dunia pendidikan terhadap penyelenggara kegiatan.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements