Tarif Tol BTB Naik, Ekonom Nilai Daya Beli Masyarakat Bisa Semakin Tertekan

Menurutnya, kenaikan tarif menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, terutama sektor angkutan logistik yang mengirim hasil pertanian dan perkebunan dari Lampung menuju Pulau Jawa.
Dedi Andrian - Selasa, 07 Jul 2026 - 22:40 WIB
Aktivitas kendaraan melintas di ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar. Akademisi menilai kenaikan tarif tol berpotensi meningkatkan biaya logistik, menekan daya beli masyarakat, serta mendorong pengguna beralih ke jalur non-tol
Aktivitas kendaraan melintas di ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar. Akademisi menilai kenaikan tarif tol berpotensi meningkatkan biaya logistik, menekan daya beli masyarakat, serta mendorong pengguna beralih ke jalur non-tol - Poto dedi

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

BANDARLAMPUNG – Kenaikan tarif ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) menuai sorotan dari kalangan akademisi. Meski jalan tol dinilai bukan faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, kebijakan tersebut diyakini berdampak terhadap biaya logistik, mobilitas barang dan orang, hingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, menilai dampak kenaikan tarif mulai terlihat dari menurunnya volume kendaraan yang melintas di jalan tol.

"Secara kasat mata volume kendaraan di jalan tol menurun. Kemungkinan besar karena banyak pengguna kembali memilih jalur non-tol setelah tarif naik. Untuk memastikan angkanya memang perlu penelitian lebih lanjut," kata Usep, Selasa 7 Juli 2026.

Menurutnya, kenaikan tarif menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, terutama sektor angkutan logistik yang mengirim hasil pertanian dan perkebunan dari Lampung menuju Pulau Jawa.

Advertisements

Ia mencontohkan, apabila sebelumnya biaya tol berkisar Rp 200 ribu dan kini meningkat menjadi sekitar Rp 250 ribu, pelaku usaha hanya memiliki dua pilihan, yakni memangkas margin keuntungan atau membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual.

"Pada akhirnya masyarakat sebagai konsumen yang akan menanggung kenaikan biaya tersebut. Kondisi ini terjadi ketika daya beli masyarakat juga sedang menghadapi berbagai tekanan," ujarnya.

Usep menjelaskan beban pelaku usaha saat ini tidak hanya berasal dari kenaikan tarif tol. Pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya harga BBM non-subsidi, hingga antrian BBM subsidi yang menghambat operasional angkutan turut memperbesar biaya distribusi.

Menurutnya, perusahaan angkutan kini dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Jalan tol memang menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat, namun dengan biaya operasional yang lebih tinggi. Sebaliknya, jalur non-tol lebih murah, tetapi membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama.

Banner Parfum Shopee

Advertisements

"Pengusaha pasti menghitung efisiensinya. Kalau lewat tol memang lebih cepat, tetapi apakah tambahan biaya itu bisa tertutupi dengan frekuensi perjalanan yang lebih banyak, itu yang menjadi pertimbangan," katanya.

Ia menambahkan, untuk komoditas yang mudah rusak seperti buah-buahan dan sayuran segar, penggunaan jalan tol masih menjadi pilihan karena kecepatan distribusi sangat menentukan kualitas barang. Sementara itu, komoditas yang memiliki daya simpan lebih lama diperkirakan akan lebih banyak dialihkan melalui jalur non-tol demi menekan biaya distribusi.

Sementara itu, ekonom sekaligus pakar Pengembangan Wilayah dan Ekonomi Regional Universitas Lampung, Dr. Asrian Hendi Caya, berpandangan bahwa keberadaan jalan tol pada dasarnya hanya menjadi salah satu instrumen infrastruktur sehingga tidak secara langsung menentukan kondisi perekonomian daerah.

Meski demikian, ia menilai kenaikan tarif yang terus terjadi membuat biaya penggunaan jalan tol semakin mahal dan mendorong masyarakat maupun pelaku usaha kembali menggunakan jalur arteri.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements