“Hasil kajian kami, Lampung itu masih lemah di matematika dan IPA. Jadi, kalau ada sekolah mengklaim dirinya sekolah unggulan, dua mata pelajaran itu wajib hukumnya kuat,” bebernya.
Pesan tersebut secara khusus diarahkan kepada mahasiswa FKIP, terutama mereka yang mengambil bidang matematika dan sains.
Thomas meminta calon guru menjadikan masa perkuliahan sebagai proses mempersiapkan diri agar mampu menciptakan desain pembelajaran yang aplikatif, kreatif dan menyenangkan.
Harapannya, siswa tidak lagi menganggap matematika maupun sains sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Thomas kemudian memberikan contoh sekolah yang dinilai berhasil menerapkan pemetaan dan inovasi pembelajaran.
Salah satunya SMAN 14 Bandar Lampung. Pada kelulusan 2026, sebanyak 284 siswa dari delapan rombongan belajar disebut berhasil lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Capaian tersebut mencapai 100 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 89 persen.
Thomas menilai keberhasilan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Menurutnya, terdapat sistem pembelajaran dan manajemen sekolah yang berjalan secara aktif.
“Di SMAN 14 itu tim percepatan pembelajarannya ada, komite pembelajarannya hidup, dan manajemen sekolahnya aktif. Yang menarik, di sana ada 9 guru matematika yang sangat produktif,” puji Thomas.
Menurutnya, keberadaan tim pembelajaran serta kolaborasi guru menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan capaian siswa.
Selain SMAN 14 Bandar Lampung, Thomas menyebut SMAN 1 Tegineneng di Lampung Selatan sebagai contoh lain.
Sekolah tersebut disebut berhasil meloloskan 99,42 persen lulusannya ke PTN.