Thomas mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari peran seorang guru matematika yang menjadi pionir sekaligus guru penggerak dalam membangun kolaborasi antarguru.
Kolaborasi tersebut memungkinkan guru dari berbagai mata pelajaran bekerja dengan arah yang lebih terukur dalam mempersiapkan kemampuan siswa.
Menurut Thomas, kedua sekolah tersebut juga menerapkan teknologi Information Technology Reset (ITR) dan Quick Check.
Melalui sistem tersebut, capaian siswa dapat dipantau secara berkala. Nilai passing grade dan target pencapaian setiap siswa juga dapat diukur sehingga sekolah memiliki dasar untuk memberikan intervensi pembelajaran.
Thomas menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan bukan lagi sekadar pilihan.
Menurutnya, digitalisasi telah mengubah lanskap pendidikan dan harus dimanfaatkan untuk memperluas akses terhadap sumber pembelajaran.
Ia berharap perguruan tinggi, termasuk Universitas Lampung, terus memperkuat ekosistem pembelajaran digital.
Dengan sistem digital yang semakin matang, mahasiswa dan civitas akademika dapat mengakses sumber pengetahuan secara lebih luas tanpa terbatas ruang kelas.
Bagi mahasiswa FKIP yang nantinya akan menjadi guru, kemampuan memanfaatkan teknologi juga dinilai menjadi bagian penting dari kompetensi yang harus dipersiapkan sejak bangku kuliah.
Thomas menilai masa depan pendidikan Lampung sangat bergantung pada kemampuan generasi calon guru dalam membaca kebutuhan siswa, memanfaatkan teknologi, serta membangun pola pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas hasil belajar.
Di tangan para calon pendidik yang hadir di GSG Unila tersebut, upaya membangun peta jalan baru pendidikan Lampung diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan dalam praktik pembelajaran di sekolah.