BANDAR LAMPUNG - Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan signifikan menjelang akhir pekan. Harga emas tercatat menembus level USD 4.500 per ons dan berada di jalur kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas telah meningkat 1,09 persen dan diperdagangkan di level USD 4.566,14 per ons. Pada saat yang sama, harga perak juga menguat 1,72 persen ke level USD 69,249 per ons, dibandingkan harga sebelumnya sekitar USD 62,99.
Emas mempertahankan kenaikan tersebut meskipun imbal hasil Treasury membalikkan penurunan hari Rabu di tengah kekhawatiran bahwa upaya pemerintah untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang mungkin hanya memberikan solusi sementara.
Dalam sebulan terakhir, harga emas telah menguat 10,92 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga komoditas logam mulia tersebut telah meningkat 35,45 persen.
Secara historis, Emas mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 5608,35 pada Januari 2026.
AS Tingkatkan Buyback Obligasi Jangka Panjang
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana peningkatan nominal dukungan likuiditas melalui program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah AS dengan tenor panjang, yakni 10 hingga 30 tahun.
Dalam kebijakan tersebut, nominal buyback ditingkatkan dari sebelumnya maksimum USD 2 miliar per operasi menjadi minimum USD 4 miliar per operasi. Kebijakan ini dijadwalkan berlaku pada periode 9 September hingga 4 November 2026.
Pengumuman tersebut turut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 7 basis poin menjadi 4,64 persen.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau DXY melemah sekitar 0,9 persen ke level 98,8. Pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi tersebut kemudian diikuti penguatan harga emas sekitar 4 persen hingga mencapai USD 4.520 per ons.
Pergerakan tersebut memperkuat tren penguatan emas dalam beberapa pekan terakhir. Dalam kurun satu bulan, harga emas bahkan telah melonjak lebih dari 10 persen.
Kondisi pasar obligasi, pergerakan dolar AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang terus menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati arah harga emas global.