“Jadi mereka nanti register di aplikasi itu. Nanti bisa melihat hasilnya, berapa yang mereka terima dari hasil program Bank Sampah yang ada di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Program tersebut merupakan bagian dari agenda Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Kota Bandar Lampung untuk memperluas inklusi sekaligus meningkatkan literasi keuangan di kalangan pelajar.
Sementara itu, Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, mengatakan tahap awal program dilakukan melalui pembukaan rekening bagi para siswa.
Setelah memiliki rekening dan mulai memperoleh penghasilan dari hasil pengumpulan sampah, para siswa akan diberikan edukasi mengenai cara mengelola keuangan.
Materi yang diberikan antara lain mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas keuangan ilegal.
“Jangan sampai tadinya uangnya uang dari orang tua, sekarang sudah punya uang sendiri. Nah, nanti kita akan berikan literasi keuangan, bagaimana mereka bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan,” ujar Otto.
Edukasi tersebut juga mencakup pemahaman mengenai bahaya aktivitas keuangan ilegal, termasuk judi dan investasi ilegal.
“Karena mereka sudah kita bekali literasi keuangan sejak dini, khususnya SMP,” katanya.
Otto menambahkan, pencairan dana dari rekening siswa nantinya mengikuti ketentuan lembaga keuangan yang digunakan, termasuk batas minimum saldo dan jumlah dana yang dapat ditarik.
Namun, menurutnya, tujuan utama program tersebut bukan sekadar membuat siswa memiliki uang atau mengambil hasil penjualan sampah. Lebih dari itu, para siswa diharapkan memahami cara mengelola uang yang diperoleh agar digunakan untuk kebutuhan yang bermanfaat.
“Yang lebih penting adalah membentuk dan memberikan pemahaman literasi keuangan sehingga mereka harus paham bahwa uang ini dikelola dan dihasilkan itu investasinya untuk apa,” ujarnya.