Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke TWNC, Satwa Liar Jadi Perhatian

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke TWNC, Habitat dan Satwa Liar Jadi Perhatian
gambar-user/R7Evkfp2NT19GsKJWnQmQ7oszupwRFyY6wKB7Pfb.webp
Budi Setiawan - Sabtu, 05 Sep 2026 - 22:16 WIB
Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut menjadi perhatian di kawasan konservasi TWNC, Kecamatan Bangkunat, Pesisir Barat. Kondisi habitat dan satwa liar masih terus dipantau tim konservasi.
Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut menjadi perhatian di kawasan konservasi TWNC, Kecamatan Bangkunat, Pesisir Barat. Kondisi habitat dan satwa liar masih terus dipantau tim konservasi. - foto -- dok.TWNC.

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

Advertisements

Dikatakannya, apabila kondisi tersebut berlangsung cukup lama, kualitas dan ketersediaan pakan dapat menurun. Satwa yang kesulitan memperoleh makanan berpotensi mengalami penurunan kondisi tubuh dan mencari wilayah lain yang masih memiliki sumber pakan.

Selain pakan, sumber air juga menjadi bagian penting yang perlu dipantau. Air yang tercampur abu dapat menjadi lebih keruh sehingga kualitas sumber air berpotensi ikut terpengaruh.

“Selain pakan, sumber air menjadi bagian penting yang perlu dipantau. Air yang tercampur abu dapat menjadi lebih keruh sehingga kualitas sumber air ikut terpengaruh,” jelasnya.

Guntur menambahkan, kondisi lingkungan yang dipenuhi abu juga berpotensi memengaruhi aktivitas harian satwa. Penurunan jarak pandang dapat membuat burung, primata dan mamalia lebih sulit bergerak, mencari makanan, mengenali ancaman maupun berinteraksi dengan kelompoknya.

Advertisements

“Abu yang memenuhi udara dan menutupi lingkungan dapat membuat aktivitas satwa berubah. Mereka bisa lebih banyak diam, mengubah pola pergerakan,” ujar Guntur.

Dari sisi kesehatan, partikel abu vulkanik yang sangat halus juga menjadi perhatian karena dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.

Paparan dalam waktu panjang berpotensi menyebabkan iritasi, gangguan pernapasan, mata berair hingga penurunan kondisi kesehatan satwa.

Tekanan tersebut dapat menjadi lebih kompleks bagi satwa yang mengandalkan kemampuan penglihatan maupun penciuman dalam menjalankan aktivitasnya.

Advertisements

Udara yang mengandung partikel abu serta lingkungan yang tertutup lapisan abu berpotensi mengganggu kemampuan satwa dalam mencari pakan, mengenali ancaman hingga menentukan arah pergerakan.

Meski demikian, Guntur menegaskan kondisi kawasan TWNC masih terus dipantau. Perubahan habitat dan perilaku satwa perlu diamati secara berkelanjutan untuk mengetahui apakah sebaran abu hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap ekosistem.

“Pada akhirnya, abu vulkanik bukan sekadar debu yang menutupi permukaan hutan. Dampaknya dapat memengaruhi pakan, air, kesehatan, perilaku hingga pola jelajah satwa liar. Karena itu, kondisi kawasan tetap kami pantau,” pungkasnya.(*)

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements