LAMPUNG BARAT – Bagi sebagian orang, seragam sekolah mungkin hanya pakaian yang dikenakan anak saat mengikuti kegiatan belajar. Namun, bagi keluarga yang harus memenuhi berbagai kebutuhan pendidikan, seragam memiliki arti lebih dari sekadar pakaian.
Di Lampung Barat, pemerintah daerah berupaya menjawab persoalan tersebut melalui program seragam sekolah gratis. Program ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi beban pengeluaran orang tua, tetapi juga membawa pesan tentang kesetaraan, kepercayaan diri dan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan.
Pesan tersebut terlihat saat Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyerahkan bantuan seragam sekolah gratis di SMP Negeri 1 Batu Ketulis, Sabtu (5/9/2026). Dalam kegiatan itu, Parosil didampingi Wakil Bupati Drs. Mad Hasnurin serta sejumlah kepala perangkat daerah terkait.
Salah seorang wali murid, Rohim, mengaku bantuan tersebut memiliki arti tersendiri bagi keluarga penerima. Menurutnya, bantuan pemerintah bukan sekadar pakaian sekolah, melainkan bentuk perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan anak.
"Terima kasih sebesar-besarnya dan apresiasi kepada Bupati Parosil Mabsus. Bagi kami, pembagian ini bukan hanya pembagian seragam, tetapi hari ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir dalam pendidikan anak kami," ujar Rohim.
Ia menilai penggunaan seragam yang sama dan layak oleh seluruh siswa juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Anak tidak perlu merasa berbeda hanya karena kondisi perlengkapan sekolah yang dimiliki keluarganya.
"Seragam ini bukan hanya sepasang baju sekolah, tetapi menjadi bukti bahwa ada perhatian, ada kepedulian dan ada harapan," katanya.
Rohim berharap perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan dapat terus menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah.
"Kami berharap kebaikan ini tidak berhenti di sini karena pendidikan adalah jalan panjang untuk mengubah masa depan anak kami. Yang menerima ini tidak menutup kemungkinan mereka yang menjadi wajah Lampung Barat di masa depan," ucap Rohim.
Bagi Parosil, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan tersedianya sekolah. Faktor sosial juga dapat memengaruhi keberanian anak untuk datang dan bertahan di lingkungan sekolah.
Karena itu, ia meminta orang tua dan pihak sekolah tidak terburu-buru menyimpulkan ketika menemukan anak yang enggan bersekolah. Penyebabnya perlu dicari, termasuk kemungkinan anak merasa minder atau mengalami perundungan akibat kondisi seragam.
"Kalau ada anak yang tidak ingin sekolah, tolong dicari tahu apa kendalanya. Bisa saja ada anak yang dibully karena seragamnya jelek atau sebagainya. Sekarang semua seragamnya bagus dan sama, merah putih sama, Pramuka sama, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak sekolah," ujar Parosil.