Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke TWNC, Satwa Liar Jadi Perhatian

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke TWNC, Habitat dan Satwa Liar Jadi Perhatian
gambar-user/R7Evkfp2NT19GsKJWnQmQ7oszupwRFyY6wKB7Pfb.webp
Budi Setiawan - Sabtu, 05 Sep 2026 - 22:16 WIB
Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut menjadi perhatian di kawasan konservasi TWNC, Kecamatan Bangkunat, Pesisir Barat. Kondisi habitat dan satwa liar masih terus dipantau tim konservasi.
Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut menjadi perhatian di kawasan konservasi TWNC, Kecamatan Bangkunat, Pesisir Barat. Kondisi habitat dan satwa liar masih terus dipantau tim konservasi. - foto -- dok.TWNC.

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

PESISIR BARAT – Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut menjadi perhatian di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar).

Hingga Sabtu (5/9/2026), kondisi kawasan tersebut masih dalam pemantauan tim konservasi untuk melihat perkembangan dampak abu vulkanik terhadap habitat dan satwa liar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesbar Herdi Wilismar, S.H., M.M., sebelumnya menyebut sebaran abu vulkanik cukup parah terjadi di wilayah Bangkunat dan sekitarnya.

Berdasarkan analisis citra Himawari-9 yang dibagikan BPBD, sebaran abu terdeteksi pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 20.000 kaki dan mencakup sebagian wilayah Pesisir Barat.

Advertisements

Kondisi tersebut membuat kawasan konservasi TWNC ikut menjadi perhatian karena wilayah tersebut merupakan habitat berbagai jenis satwa liar.

Tim Konservasi TWNC Guntur Wibawa mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap kondisi kawasan. Menurutnya, dampak secara keseluruhan belum dapat dipastikan karena kondisi lingkungan masih terus berkembang.

“Untuk di wilayah TWNC, kawasan konservasi yang ada di wilayah Kecamatan Bangkunat hingga kini masih dalam pantauan,” kata Guntur.

Menurut dia, hal yang perlu diperhatikan dari sebaran abu vulkanik bukan hanya perubahan kondisi permukaan kawasan, tetapi juga kemungkinan gangguan terhadap keseimbangan kehidupan satwa liar.


Banner Parfum Shopee

Advertisements

Abu yang menutupi hutan, padang rumput, vegetasi, sumber air hingga ruang jelajah satwa berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem apabila berlangsung dalam waktu cukup lama.

Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah ketersediaan sumber pakan. Abu vulkanik dapat menutupi rumput, daun, tunas, buah dan berbagai jenis vegetasi yang menjadi sumber makanan satwa.

Kondisi tersebut terutama berpotensi memengaruhi satwa herbivora karena akses terhadap vegetasi sebagai sumber pakan dapat berkurang.

“Abu vulkanik tidak hanya mengubah wajah habitat, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan kehidupan satwa liar secara menyeluruh. Ketika abu menutupi hutan, padang rumput, sumber air dan ruang jelajah satwa, rantai kehidupan di dalam ekosistem ikut mengalami tekanan,” jelasnya.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements