Ia juga mengingatkan aparatur agar tidak memaksakan diri mengejar kemewahan, termasuk membeli kendaraan dengan harga yang tidak sebanding dengan kemampuan penghasilan.
“Kalau kau pegawai negeri jangan berharap beli mobil harga miliaran, karena bisa jadi kau mencuri,” ujarnya.
Menurut Das’ad, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai kemampuan membeli barang mewah. Lebih dari itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga sumber penghasilan dan tidak menjadikan jabatan sebagai pintu untuk memenuhi gaya hidup.
Das’ad juga menyinggung penggunaan barang milik negara. Ia mengingatkan bahwa fasilitas yang berada di kantor bukan merupakan milik pribadi pejabat maupun pegawai sehingga tidak boleh dibawa pulang atau berpindah tangan tanpa hak.
“Jangan mengambil barang-barang di kantor. Setiap ganti kepala dinas, hilang AC, hilang hordeng. Kerja sama dengan kepala bagian umum,” katanya.
Kritik tersebut disampaikan Das’ad dengan gaya khasnya yang diselingi humor. Namun, pesan yang disampaikan berkaitan dengan persoalan serius, yakni integritas aparatur dan pertanggungjawaban dalam menggunakan fasilitas negara.
Ia mengingatkan bahwa jabatan dan fasilitas yang melekat pada pekerjaan pemerintahan bukan hanya berkaitan dengan pertanggungjawaban kepada institusi dan masyarakat, tetapi juga memiliki konsekuensi moral dan keagamaan.
“Kalau lewat di Padang Mahsyar, dia pikul semua barang-barang itu,” ujarnya.
Das’ad juga mengingatkan bahwa jabatan tidak berlangsung selamanya. Karena itu, seorang pejabat maupun pegawai tidak seharusnya menjadikan posisi sebagai ukuran kehormatan diri.
Menurutnya, kehormatan aparatur justru tercermin dari kemampuan menjaga amanah, bekerja secara profesional, serta mempertahankan prinsip meski berada dalam tekanan kepentingan jabatan.
Pesan tersebut disampaikan dalam momentum peringatan HUT ke-35 Lampung Barat. Selain menjadi ruang untuk merayakan perjalanan dan capaian pembangunan daerah, peringatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya tata kelola pemerintahan yang berintegritas.
Bagi Das’ad, pendidikan tinggi, jabatan dan fasilitas negara semestinya berujung pada meningkatnya tanggung jawab, bukan semakin kuatnya kepentingan pribadi.