BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak generasi muda mengambil peran strategis dalam mengembangkan ekonomi desa melalui hilirisasi komoditas unggulan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan usaha berbasis potensi lokal.
Ajakan tersebut disampaikan Gubernur yang akrab disapa Mirza saat menghadiri Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-III di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta, Sabtu 31 Oktober 2026.
Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-III menjadi wadah pertemuan para pengurus pusat dan daerah dari berbagai wilayah Indonesia untuk bertukar gagasan serta membahas kontribusi generasi muda dalam pembangunan bangsa. Melalui forum ini, gerakan kepemudaan didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Dalam paparannya, Gubernur Mirza menjelaskan bahwa daerah penghasil sumber daya alam, termasuk sektor pertanian dan perkebunan, belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Sebagian hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sedangkan proses pengolahan dan keuntungan ekonomi justru lebih banyak dinikmati daerah lain.
Kondisi tersebut turut membatasi peluang usaha dan lapangan kerja di perdesaan. Akibatnya, banyak generasi muda memilih meninggalkan desa untuk mencari penghidupan di perkotaan.
“Potensi desa harus bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakatnya. Jangan sampai kita menghasilkan bahan baku, tetapi nilai tambah dan kesempatan kerja justru tercipta di daerah lain,” ujar Mirza.
Ia menilai, arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto perlu diperkuat melalui pemerataan aktivitas ekonomi, peningkatan kesejahteraan petani, serta penciptaan ekosistem usaha hingga ke wilayah perdesaan.
Ketika pendapatan masyarakat desa meningkat dan aktivitas ekonomi tumbuh, manfaatnya dapat dirasakan secara luas, mulai dari petani, pedagang, pelaku usaha kecil, hingga tenaga kerja lokal.
Gubernur Mirza secara khusus menyoroti potensi sektor pertanian dan perkebunan Lampung, terutama komoditas kopi, kakao, dan lada. Menurutnya, berbagai komoditas tersebut masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pengolahan produk di daerah asal.
Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi tidak hanya diterima petani sebagai penghasil bahan baku. Lebih dari itu, proses pengolahan dapat membuka peluang usaha baru di sektor pengemasan, distribusi, hingga pemasaran produk.
Dalam membangun ekosistem ekonomi tersebut, generasi muda dinilai memiliki peran strategis. Mereka dapat berkontribusi melalui penguasaan teknologi, pengembangan produk, inovasi usaha, serta pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
“Petani menghasilkan bahan baku, sementara anak-anak muda bisa mengembangkan pengolahan dan pemasarannya. Dari situ akan muncul usaha baru dan lapangan kerja di desa,” jelasnya.