BANDAR LAMPUNG – Setelah menjadi salah satu aset investasi paling diminati dalam dua tahun terakhir dan mencetak berbagai rekor harga, emas global kini kehilangan sebagian daya tariknya.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga logam mulia berada di bawah tekanan akibat kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat serta penguatan nilai tukar dolar AS.
Pada perdagangan harga emas spot tercatat naik tipis sekitar 0,3 persen ke level USD4.227 per troy ounce. Namun kenaikan tersebut belum mampu menghapus tekanan yang terjadi sepanjang pekan. Secara mingguan, harga emas masih terkoreksi sekitar 2,3 persen dan mencatat penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Perjalanan harga emas sepanjang tahun ini terbilang penuh dinamika. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di kisaran USD5.595 per ounce pada Januari, harga emas kini telah terkoreksi sekitar 25 persen. Bahkan sehari sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level USD4.022 per ounce, yang menjadi titik terendah dalam lebih dari enam bulan terakhir.
Pelemahan harga emas terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat, inflasi yang bertahan di atas 4 persen, serta kenaikan indeks harga produsen membuat pelaku pasar mulai mengurangi harapan terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil atau bunga kepada investornya. Akibatnya, sebagian investor mulai mengalihkan dana ke aset yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik.
Tekanan tambahan juga datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat memicu kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Ketika inflasi diperkirakan bertahan lebih lama, peluang kebijakan suku bunga tinggi juga semakin besar. Dalam kondisi seperti ini, status emas sebagai aset lindung nilai belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga secara signifikan.
Pelaku pasar kini menanti hasil rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Berdasarkan proyeksi pasar, peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun diperkirakan mencapai sekitar 57 persen.
Sejumlah analis mulai merevisi target harga emas. UBS memperkirakan logam mulia tersebut berpotensi bergerak ke kisaran USD3.850 hingga USD4.000 per ounce dalam jangka pendek apabila kebijakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Dari sisi teknikal, emas juga menghadapi tantangan besar. Harga telah menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun terakhir.
Level tersebut kini berubah menjadi area resistensi di sekitar USD4.446 per ounce dan memberikan sinyal bahwa tren kenaikan yang mendominasi sejak 2023 mulai kehilangan momentum.