Kenaikan harga kebutuhan hidup tidak diiringi dengan peningkatan gaji maupun pendapatan.
“Ini akan menjadi masalah karena gaji, upah, dan pendapatan masyarakat tidak naik, sementara biaya hidup meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berada pada posisi paling rentan. Mereka harus menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan produksi, namun kesulitan menyesuaikan harga jual karena daya beli konsumen yang menurun.
“Pelaku UMKM tertekan. Biaya produksi naik, tapi harga jual sulit dinaikkan karena masyarakat juga sedang menahan belanja,” kata Dr. Usep.
Meski demikian, Dr. Usep menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif.
Sektor yang berorientasi ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena nilai penerimaan dalam dolar AS meningkat saat dikonversi ke rupiah.
“Walaupun ada sisi negatifnya, bagi pelaku ekspor justru ada keuntungan karena penerimaan dalam dolar akan lebih besar jika dikonversi ke rupiah,” ujarnya.
Namun, ia tetap mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar yang berkepanjangan harus diantisipasi secara serius. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko krisis ekonomi.
“Melemahnya nilai tukar ini bisa memicu krisis, mudah-mudahan tidak sampai ke sana,” tegasnya.
Menghadapi tekanan nilai tukar, Dr. Usep mendorong pelaku usaha untuk mulai mencari alternatif bahan baku non-impor serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya produksi guna meningkatkan efisiensi.
“Perlu dicari alternatif bahan baku non impor dan dianalisis kembali struktur biaya untuk bisa melakukan efisiensi,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta lebih bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi.