Komisi II DPRD Lampung Barat Pelajari Pengelolaan Panas Bumi Ramah Lingkungan di Gunung Salak

Kunjungan kerja DPRD Lampung Barat ke Gunung Salak menyoroti praktik panas bumi yang mengutamakan keselamatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Rinto Arius - Sabtu, 18 Jul 2026 - 19:42 WIB
Rombongan Komisi II DPRD Lampung Barat meninjau operasional Lapangan Panas Bumi Gunung Salak milik Star Energy Geothermal di Kabupaten Bogor
Rombongan Komisi II DPRD Lampung Barat meninjau operasional Lapangan Panas Bumi Gunung Salak milik Star Energy Geothermal di Kabupaten Bogor - Foto Istimewa

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

LAMPUNG BARAT – Komisi II DPRD Kabupaten Lampung Barat melakukan kunjungan kerja ke Lapangan Panas Bumi Gunung Salak yang dikelola Star Energy Geothermal di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (16 Juli 2026). 

Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari pengelolaan panas bumi yang mengedepankan keselamatan kerja, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat sebagai referensi bagi pengembangan energi baru terbarukan di Lampung Barat.

Sebanyak 15 anggota rombongan meninjau langsung area operasi, sumur produksi, hingga fasilitas pembangkit listrik. Mereka juga memperoleh penjelasan mengenai proses pemanfaatan energi panas bumi menjadi listrik, penerapan standar keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, serta berbagai program konservasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Gunung Salak, Irwan Januar, mengatakan pengembangan panas bumi tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi bersih, tetapi juga harus menjaga keseimbangan lingkungan serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Advertisements

"Kami menyambut baik kunjungan Komisi II DPRD Kabupaten Lampung Barat. Pengembangan panas bumi harus berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Prinsip tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional kami di Salak," ujar Irwan.

Ketua DPRD Lampung Barat, Edi Novial, S.Kom, mengaku memperoleh perspektif baru setelah melihat langsung operasional Lapangan Panas Bumi Gunung Salak.

"Yang paling berkesan bagi kami adalah melihat langsung bahwa operasi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan kawasan hutan. Kami tidak melihat adanya kerusakan hutan, justru tutupan hutannya tetap terjaga dengan baik. Kunjungan ini memberikan gambaran bahwa pengembangan panas bumi dapat dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan," kata Edi.

Dalam pemaparannya, pihak Star Energy Geothermal menjelaskan bahwa dari total wilayah kerja panas bumi seluas sekitar 10 ribu hektare, lahan yang dimanfaatkan untuk fasilitas operasi hanya sekitar 239 hektare atau sekitar 2,4 persen. Dengan demikian, sebagian besar kawasan tetap berupa hutan yang terjaga.


Banner Parfum Shopee

Advertisements

Perusahaan juga memaparkan hasil pemantauan lingkungan yang menunjukkan kawasan hutan di sekitar area operasi masih menjadi habitat satwa liar, seperti macan tutul Jawa, elang Jawa, dan owa Jawa.

Keberadaan satwa tersebut masih rutin terpantau melalui kamera pemantau, bahkan frekuensi kemunculannya disebut meningkat dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan, Star Energy Geothermal telah melakukan pemulihan sekitar 275 hektare habitat melalui penanaman sekitar 250 ribu pohon dari 30 jenis tanaman asli.

Perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak serta para pemangku kepentingan lainnya.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements