BANDAR LAMPUNG — Harga emas menutup perdagangan pekan ini dengan catatan positif seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat pada September 2026.
Kondisi tersebut kembali memberikan dorongan bagi logam mulia untuk melanjutkan reli sepanjang Agustus, meski pergerakannya masih dibayangi penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta aksi ambil untung.
Harga emas spot mengawali pekan di level US$4.342,50 per ons dan menguat dalam dua sesi perdagangan pertama. Momentum tersebut muncul setelah data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Fed kembali mereda.
Pada Kamis, harga emas sempat mencapai US$4.450,23 per ons, yang menjadi level tertinggi sepanjang pekan. Namun, kenaikan tersebut kemudian diikuti aksi ambil untung setelah emas menguat selama empat sesi berturut-turut.
Pada awal perdagangan Jumat, harga emas bahkan sempat turun ke US$4.311,22 per ons. Penurunan terjadi ketika harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat.
Tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Data penjualan ritel AS yang secara tak terduga turun 0,6 persen kembali memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Harga emas pun kembali pulih menjelang penutupan pekan.
Survei emas mingguan Kitco News menunjukkan mayoritas analis masih memiliki pandangan bullish terhadap harga emas untuk periode 17-23 Agustus 2026.
Dari 10 pakar yang mengikuti survei tersebut, sebanyak sembilan orang atau 90 persen memperkirakan harga emas akan naik. Sementara itu, hanya satu analis yang memprediksi penurunan dan tidak ada yang memperkirakan harga emas bergerak stabil.
Sentimen positif juga terlihat dari kalangan investor individu. Dari 222 peserta survei, sebanyak 150 orang atau 68 persen memperkirakan harga emas akan menguat. Sebanyak 38 orang atau 17 persen memprediksi penurunan, sedangkan 34 orang atau 15 persen memperkirakan emas memasuki fase konsolidasi.
Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, memperkirakan harga emas masih berpeluang naik, meski dengan laju yang lebih moderat. Menurutnya, tarik-menarik antara prospek suku bunga dan kondisi fiskal membuat harga emas masih bergerak dalam kisaran tertentu.
"Pasar memiliki dukungan yang kuat tetapi belum siap untuk terobosan yang signifikan."
Pandangan lebih optimistis disampaikan Marc Chandler, CEO Bannockburn Global Forex. Ia memperkirakan harga emas berpotensi menguji rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$4.503 per ons pada pekan depan.