Rich Checkan, Presiden sekaligus Kepala Operasional Asset Strategies International, juga melihat peluang kenaikan harga emas masih terbuka. Menurutnya, pendinginan harga konsumen dan produsen, penurunan bersih penciptaan lapangan kerja baru, serta peningkatan klaim pengangguran awal memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada September.
James Stanley, ahli strategi pasar senior di Forex, juga menilai reli emas belum berakhir. Menurutnya, tekanan beli masih cukup kuat hingga akhir pekan meski aksi ambil untung sempat menekan harga.
Namun, tidak semua analis memiliki pandangan bullish. Darin Newsom, analis pasar senior di Barchart, memperkirakan harga emas berpotensi melemah pada pekan depan. Sejumlah indikator teknikal, menurutnya, menunjukkan adanya risiko penurunan dalam jangka pendek.
Daniel Pavilonis, pialang komoditas senior di StoneX Group, juga menilai terlalu dini untuk memastikan tren kenaikan emas yang lebih luas telah kembali. Menurutnya, pasar masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mendorong harga emas mencetak rekor tertinggi baru.
US$4.500 Jadi Level Penting Harga Emas
Level US$4.500 per ons kini menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Alex Kuptsikevich, analis pasar senior di FxPro, menilai kembalinya tekanan beli pada akhir pekan menunjukkan bahwa penurunan sekitar US$140 setelah emas menyentuh US$4.450 per ons lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung jangka pendek.
Meski demikian, emas kini mendekati zona resistensi yang signifikan. Rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$4.500 per ons, yang sebelumnya berfungsi sebagai support, kini berpotensi berubah menjadi level resistensi.
Untuk mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, emas membutuhkan dukungan tambahan. Pelemahan dolar AS yang berkelanjutan serta prospek kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar menjadi sejumlah faktor yang dapat membantu memperkuat momentum kenaikan.
Sementara itu, Adam Button, Kepala Strategi Mata Uang di investingLive, menilai kemampuan harga emas bertahan di atas US$4.300 per ons menjadi sinyal positif. Ia juga menyebut level US$4.000 per ons sebagai area support penting.
Pergerakan harga emas pada pekan depan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi AS dan sinyal kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar akan mencermati indeks manufaktur Empire State New York, data pembangunan dan izin konstruksi Juli, penjualan rumah yang tertunda, klaim pengangguran mingguan, serta indeks manufaktur Federal Reserve Philadelphia.
Investor juga akan memberikan perhatian besar terhadap risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berlangsung pada 28-29 Juli. Risalah tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap tekanan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah suku bunga berikutnya.
Selain itu, indeks manajer pembelian (PMI) Global S&P pendahuluan akan menjadi indikator penting untuk melihat aktivitas sektor swasta AS pada Agustus. Serangkaian data tersebut dapat menentukan apakah emas mampu menembus level US$4.500 per ons atau kembali bergerak dalam kisaran harga saat ini.