Tidak hanya berfokus pada siswa muslim, sekolah juga memberikan ruang bagi peserta didik nonmuslim untuk membaca kitab suci sesuai keyakinan masing-masing di ruangan yang telah disediakan.
Menurut Rodi, pendekatan inklusif tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap keberagaman sekaligus memperkuat nilai toleransi antar peserta didik.
Dengan demikian, seluruh siswa tetap dapat memulai aktivitas belajar dengan suasana spiritual yang baik sesuai agama masing-masing.
“Sekolah ingin seluruh peserta didik merasa nyaman dan dihargai. Karena itu, bagi siswa nonmuslim kami juga memfasilitasi waktu khusus untuk membaca kitab suci sesuai keyakinannya. Semangat utamanya adalah membangun karakter positif dan kedisiplinan,” ujarnya.
Program Lampung Mengaji di SMAN 1 Pesisir Tengah juga dinilai efektif meningkatkan kedisiplinan siswa.
Pihak sekolah mencatat tingkat keterlambatan peserta didik mengalami penurunan cukup signifikan sejak program tersebut diterapkan secara konsisten.
Para siswa kini lebih antusias datang lebih awal agar dapat mengikuti tadarus bersama teman-teman sekelas. Kebiasaan itu perlahan membentuk budaya disiplin yang tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan sekadar aturan sekolah.
“Anak-anak sekarang lebih bersemangat datang pagi. Mereka tidak ingin tertinggal mengikuti kegiatan mengaji bersama teman-temannya. Ini menjadi dampak positif yang sangat terasa bagi sekolah,” ungkapnya.
Pihak sekolah berharap budaya Lampung Mengaji dapat terus dipertahankan dan menjadi bekal bagi siswa saat terjun ke tengah masyarakat.
Rodi menegaskan sekolah berkomitmen menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas religius di Kabupaten Pesbar yang dikenal sebagai Negeri Para Saibatin dan Ulama.
“Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi kebiasaan baik yang melekat pada diri siswa. Ketika mereka nantinya berada di tengah masyarakat, nilai-nilai religius yang ditanamkan sejak sekolah dapat menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.(*)