BANDAR LAMPUNG – Persaingan laptop berbasis kecerdasan buatan atau AI kini semakin ketat. Salah satu perangkat yang mencuri perhatian datang dari lini terbaru HP yang tampil dengan desain super tipis, namun tetap membawa spesifikasi kelas atas.
HP juga resmi menyederhanakan penamaan produk laptop mereka agar lebih mudah dikenali konsumen. Nama-nama lama seperti seri Envy dan Spectre kini digantikan dengan identitas baru melalui lini HP OmniBook.
Salah satu varian premium yang paling menarik adalah HP OmniBook 7 Aero. Embel-embel “Aero” menandakan laptop ini mengusung konsep ultra ringan dengan bobot bahkan tidak sampai 1 kilogram.
Desain Ultra Ringan dan Premium
Keunggulan utama HP OmniBook 7 Aero terletak pada tingkat portabilitasnya. Laptop ini hanya memiliki bobot sekitar 0,9 kilogram sehingga nyaman dibawa bepergian.
Dimensinya juga cukup ringkas dan tidak memakan banyak ruang di dalam tas. Bahkan, perangkat ini masih muat dimasukkan ke dalam sling bag berukuran sedang.
Meski ringan, kualitas bodinya tetap terasa premium dan kokoh. HP menggunakan material magnesium aluminium yang membuat tampilannya elegan sekaligus solid saat digenggam.
Pada bagian atas layar, tersedia kamera bawaan yang sudah mendukung fitur Windows Studio Effect. Teknologi tersebut mampu menampilkan warna kulit lebih natural saat meeting online.
Dari sisi keamanan, laptop ini dibekali sensor inframerah untuk fitur Windows Hello berbasis Face ID. HP juga menambahkan fitur Presence Sensing yang dapat mengunci layar otomatis ketika pengguna meninggalkan perangkat.
Performa Ryzen AI untuk Multitasking
Di balik bodinya yang tipis, HP OmniBook 7 Aero membawa spesifikasi performa yang cukup bertenaga. Laptop ini ditenagai prosesor AMD Ryzen AI 7350 dengan konfigurasi 8 core dan 16 thread.
Kecepatan boost-nya mampu mencapai lebih dari 5 GHz. Hal tersebut membuat laptop sanggup menangani berbagai kebutuhan multitasking berat dengan lancar.
Perangkat ini juga telah mengantongi sertifikasi Copilot+ PC. Dukungan NPU 50 TOPS memungkinkan berbagai proses AI berjalan lebih cepat secara offline.
Proses generate gambar berbasis AI misalnya, dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini tentu membantu pekerja kreatif yang membutuhkan efisiensi waktu kerja.