BANDAR LAMPUNG – Harga emas batangan bersertifikat yang dijual melalui Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik pada Kamis, 17 September 2026. Harga emas Antam tercatat naik Rp 5.000 per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Mengacu pada data Logam Mulia, harga emas Antam hari ini berada di level Rp 2.598.000 per gram, naik dari sebelumnya Rp 2.593.000 per gram.
Di sisi lain, harga beli kembali atau buyback emas Antam tidak mengalami perubahan. Harga buyback tetap berada di level Rp 2.438.000 per gram.
Dengan demikian, terdapat selisih atau spread sebesar Rp 160.000 per gram antara harga emas Antam dan harga buyback pada hari ini.
Selama ini, Antam menetapkan dua jenis harga untuk emas batangan produksinya, yakni harga jual emas dan harga beli kembali atau buyback.
Harga emas merupakan harga yang harus dibayarkan ketika membeli emas dari gerai Logam Mulia. Sementara itu, harga buyback merupakan harga yang berlaku ketika pemilik emas menjual kembali emasnya kepada Logam Mulia.
Dengan harga hari ini, pembeli harus membayar Rp 2.598.000 untuk setiap gram emas Antam. Namun, apabila emas tersebut langsung dijual kembali, harga yang diterima mengacu pada harga buyback sebesar Rp 2.438.000 per gram.
Perbedaan harga tersebut penting diperhatikan oleh investor yang ingin berinvestasi pada emas batangan. Spread antara harga jual dan buyback dapat memengaruhi perhitungan potensi keuntungan maupun kerugian investasi.
Dengan spread sebesar Rp 160.000 per gram, investasi emas batangan perlu mempertimbangkan jangka waktu investasi. Kenaikan harga emas dalam jangka panjang diharapkan dapat menutup selisih antara harga pembelian dan harga buyback sekaligus menghasilkan keuntungan.
Sebagai ilustrasi, berikut perhitungan potensi untung atau rugi apabila investor membeli emas batangan pada sejumlah periode sebelumnya dan menjualnya berdasarkan harga buyback saat ini.
Investor yang membeli emas pada 10 September 2026 dengan harga Rp 2.625.000 per gram tercatat mengalami potensi kerugian sebesar 7,12%.
Sementara itu, pembelian pada 17 Agustus 2026 dengan harga Rp 2.677.000 per gram menghasilkan potensi kerugian 8,93%. Pembelian pada 17 Juni 2026 dengan harga Rp 2.733.000 per gram menghasilkan potensi kerugian 10,79%.