LAMPUNG BARAT – Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyiapkan konsep baru program Sekolah Kopi dengan membawa pendampingan langsung ke kebun masyarakat melalui program Sekolah Kopi Masuk Kampung.
Program tersebut akan melibatkan tim Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Lampung Barat untuk turun langsung mendampingi petani, khususnya pemilik kebun kopi yang kondisinya kurang baik dan memiliki tingkat produksi rendah.
Berbeda dengan pendampingan yang menyasar kebun produktif, program ini justru memprioritaskan kebun yang rusak atau belum mampu menghasilkan produksi secara optimal.
Hal tersebut disampaikan Parosil saat membuka Tabligh Akbar bersama penceramah Ustadz Das'ad Latif dalam rangkaian puncak peringatan HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat di halaman Masjid Bintang Mas, Kawasan Sekuting Terpadu, Pekon Watas, Kecamatan Balikbukit.
Parosil mengatakan, Sekolah Kopi Masuk Kampung merupakan kelanjutan dari program Sekolah Kopi yang selama ini telah berjalan. Namun, fokus pendampingan kini diarahkan lebih dekat pada persoalan utama petani, yakni meningkatkan produksi dari kebun yang belum optimal.
"Program Sekolah Kopi ini kita lanjutkan dengan konsep Sekolah Kopi Masuk Kampung. Nanti tim dari Dinas Perkebunan dan Peternakan akan datang langsung ke kebun-kebun kopi masyarakat," kata Parosil.
Menurutnya, pendampingan tidak ditujukan kepada kebun yang sudah dalam kondisi baik dan memiliki produksi tinggi. Tim akan mengidentifikasi kebun yang rusak maupun memiliki produksi rendah untuk kemudian diberikan pendampingan terkait perbaikan dan perawatannya.
"Yang kita sasar bukan kebun yang sudah bagus dan banyak buahnya. Justru kebun-kebun yang rusak dan produksinya rendah. Di situ nanti tim akan mendampingi bagaimana memperbaiki dan merawat kebun tersebut agar produksinya bisa maksimal," ujarnya.
Parosil menjelaskan, konsep tersebut sekaligus memperluas cakupan program Sekolah Kopi di Lampung Barat. Jika sebelumnya program lebih banyak memberikan penguatan pada sisi hilir, seperti keterampilan barista dan pengolahan kopi, kini perhatian kembali diarahkan ke sektor hulu, yakni kebun dan tanaman kopi.
"Kalau sebelumnya Sekolah Kopi kita melatih para barista untuk meracik kopi, kali ini sasaran kita produksi kopinya. Jadi kita ingin mulai dari kebunnya, bagaimana produksinya bisa meningkat," jelas Parosil.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkab Lampung Barat ingin meningkatkan produksi kopi tidak hanya melalui kemampuan mengolah dan menyajikan hasil panen, tetapi juga dengan memperbaiki kondisi tanaman serta pengelolaan kebun sebagai sumber bahan baku.
Pendampingan langsung ke kebun juga diharapkan dapat membantu pemerintah mengidentifikasi persoalan yang dihadapi petani secara lebih tepat. Kebun dengan produksi rendah dapat ditangani berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing.