PESISIR BARAT – Dampak musim kemarau mulai dirasakan sektor pertanian di Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar). Sebanyak 272 hektare lahan persawahan tadah hujan yang telah ditanami padi mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman sekaligus menurunkan hasil produksi apabila tidak segera ditangani.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Pesbar melakukan peninjauan serta monitoring langsung ke sejumlah areal persawahan terdampak pada Rabu, 5 Agustus 2026. Monitoring difokuskan pada lahan sawah tadah hujan yang selama ini bergantung sepenuhnya pada curah hujan sebagai sumber utama pengairan.
Kepala DKPPP Kabupaten Pesbar, Irvan Leonardo Abdullah, S.P., M.Si., mengatakan hasil monitoring menunjukkan sedikitnya 272 hektare tanaman padi di tiga kecamatan mengalami kekurangan pasokan air. Lahan tersebut berada di Kecamatan Krui Selatan, Pesisir Selatan, dan Ngambur yang seluruhnya merupakan kawasan persawahan tadah hujan sehingga rentan terhadap dampak musim kemarau.
Menurut Irvan, hasil pengecekan memperlihatkan sebagian besar tanaman mulai mengalami kekeringan. Ketersediaan air yang terus menurun membuat pertumbuhan tanaman tidak berlangsung optimal. Bahkan, pada beberapa petak sawah mulai terlihat gejala perlambatan pertumbuhan akibat kebutuhan air yang tidak terpenuhi.
“Hasil monitoring menunjukkan tanaman padi di beberapa lokasi mengalami kekurangan air sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya tambahan pasokan air, tentu akan berdampak terhadap penurunan hasil produksi padi pada musim tanam kali ini,” kata Irvan saat dikonfirmasi, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tanaman padi yang terdampak memiliki umur bervariasi, mulai 40 hingga 60 hari setelah tanam. Sebagian tanaman bahkan telah memasuki fase generatif atau pembentukan malai yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah cukup untuk mendukung proses pengisian bulir.
“Tanaman yang terdampak saat ini usianya berkisar 40 sampai 60 hari. Bahkan ada yang sudah memasuki fase generatif sehingga kebutuhan airnya semakin tinggi. Karena itu, upaya penanganan harus segera dilakukan agar kerusakan tanaman tidak semakin meluas,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan sementara, para petani memanfaatkan sistem irigasi perpompaan yang bersumber dari sumur bor maupun sumber air permukaan yang masih tersedia di sekitar lahan pertanian. Hingga kini tercatat ada 14 unit irigasi perpompaan yang digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman padi di wilayah terdampak.
DKPPP juga terus mendorong penambahan sarana pengairan melalui pemerintah pusat. Menurut Irvan, keberadaan irigasi perpompaan menjadi salah satu solusi efektif untuk mengurangi dampak kekeringan pada lahan sawah tadah hujan, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Saat ini sebagian petani memanfaatkan 14 unit irigasi perpompaan atau sumur bor yang sudah tersedia. Kami juga masih mengusulkan kembali kepada pemerintah pusat agar kuota bantuan irigasi perpompaan dapat ditambah, sehingga lebih banyak lahan sawah yang bisa memperoleh suplai air ketika musim kemarau seperti sekarang,” ungkapnya.
Selain mengoptimalkan sumur bor, pemanfaatan pompa air dari sumber air permukaan juga terus dilakukan selama debit air masih mencukupi untuk dialirkan ke lahan pertanian. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan tanaman hingga masa panen sekaligus meminimalkan risiko puso akibat kekeringan berkepanjangan.
DKPPP memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala bersama para penyuluh pertanian guna memonitor perkembangan kondisi tanaman di seluruh sentra produksi padi di Kabupaten Pesbar.