LAMPUNG BARAT – Kerusakan ruas jalan penghubung Pekon Turgak, Kecamatan Belalau, menuju Pekon Sukaraja, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat, yang telah berlangsung sekitar lima tahun, mendorong masyarakat turun tangan melakukan perbaikan secara swadaya.
Bersama Pemerintah Pekon Turgak dan tokoh masyarakat, warga bergotong royong memperlebar badan jalan yang terdampak longsor. Sejumlah titik yang dinilai membutuhkan penguatan juga dilakukan pengecoran agar akses tetap dapat dilalui.
Inisiatif tersebut dilakukan sembari menunggu pembangunan dan penanganan permanen dari pemerintah. Kondisi ruas jalan yang berada di kawasan perbukitan membuat badan jalan rentan mengalami kerusakan dan penyempitan akibat longsor.
Peratin Turgak, Ichwan, mengatakan perbaikan swadaya tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama agar kondisi jalan tidak semakin menghambat aktivitas masyarakat.
“Ini inisiatif dari pemerintah pekon bersama tokoh masyarakat, sembari kita menunggu pembangunan dari pemerintah. Kami berusaha bagaimana jalan ini tetap bisa digunakan masyarakat,” ujar Ichwan, Minggu (9/8/2026).
Untuk mendukung kegiatan tersebut, masyarakat yang memiliki mobil dikenakan iuran sebesar Rp100 ribu per rumah. Pemerintah Pekon Turgak turut memberikan dukungan Rp1 juta, sementara masyarakat lainnya memberikan bantuan secara sukarela.
“Dari swadaya masyarakat, khususnya yang mempunyai mobil, kita minta iuran Rp100 ribu per rumah. Dari pemerintah pekon ada Rp1 juta, kemudian ada juga masyarakat yang membantu secara sukarela. Kalau dikumpulkan, kurang lebih terkumpul Rp7 jutaan. Dana itulah yang kami kelola untuk perbaikan,” jelasnya.
Ichwan mengatakan dana yang terkumpul digunakan untuk menangani sejumlah titik jalan yang kondisinya cukup mengkhawatirkan.
“Jadi selain pemapasan badan jalan pasca longsor, ada beberapa titik yang juga kami cor. Kita sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan dana yang terkumpul,” katanya.
Menurutnya, ruas Turgak-Sukaraja memiliki peran penting bagi masyarakat karena menjadi akses penghubung untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari.
Kerusakan dan penyempitan badan jalan membuat masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Terlebih, kondisi geografis ruas tersebut berada di kawasan perbukitan sehingga cukup rentan terdampak longsor, terutama saat hujan.
Ichwan menegaskan, perbaikan secara swadaya bukan berarti masyarakat mengabaikan kebutuhan pembangunan permanen. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya sementara agar akses tetap terbuka sembari menunggu penanganan yang lebih menyeluruh dari pemerintah.