BANDAR LAMPUNG - Harga emas dunia diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada pekan depan setelah mencatat kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir.
Momentum tersebut membuat logam mulia keluar dari zona konsolidasi selama sekitar dua bulan dan kembali menjadi perhatian investor.
Dalam sepekan terakhir, harga emas melonjak hampir US$300 per ons. Penguatan tersebut terjadi setelah sejumlah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan kelemahan, sehingga mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Optimisme terhadap prospek emas juga tercermin dalam survei emas mingguan terbaru Kitco News. Sebagian besar analis Wall Street dan investor individu memperkirakan harga logam mulia tersebut masih memiliki ruang untuk naik pada pekan depan.
Kenaikan harga emas mulai terlihat signifikan pada Selasa ketika logam mulia tersebut mencapai level resistensi awal US$4.100 per ons. Sehari kemudian, harga emas kembali menguat dan berhasil menembus US$4.200 per ons.
Momentum positif berlanjut menjelang akhir pekan. Harga emas berhasil melewati level US$4.300 per ons seiring munculnya tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi tersebut sekaligus mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas pasar yang memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase oleh The Fed pada September turun di bawah 50%. Sebelumnya, probabilitas tersebut berada di sekitar 60% sebelum laporan ketenagakerjaan AS dirilis pada Jumat.
Sentimen positif juga terlihat dalam survei Kitco News. Dari 19 pakar Wall Street yang menjadi responden, sebanyak 16 orang atau 84% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan depan. Sebanyak dua analis atau 11% memperkirakan harga emas turun, sedangkan satu analis atau 5% memilih bersikap netral.
Optimisme serupa muncul dari kalangan investor individu. Jajak pendapat daring terhadap 241 responden menunjukkan 166 orang atau 69% memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan depan. Sebanyak 37 orang atau 15% memprediksi penurunan, sementara 38 orang atau 16% bersikap netral.
Dengan demikian, baik analis profesional maupun investor individu saat ini cenderung melihat peluang penguatan harga emas setelah logam mulia tersebut berhasil keluar dari kisaran konsolidasi selama dua bulan.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS, khususnya indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI), yang dijadwalkan dirilis pada Selasa pekan depan. Data tersebut dinilai dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga emas selanjutnya.
Jika tekanan inflasi AS kembali meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil.