Banyak unit telah mengalami modifikasi, digunakan untuk balap atau mendapatkan penggantian berbagai komponen selama puluhan tahun.
Karena itu, unit yang masih mempertahankan kondisi orisinal menjadi semakin menarik bagi kolektor.
Kelengkapan bodi, kondisi mesin, nomor rangka dan mesin, dokumen kendaraan serta komponen bawaan dapat menjadi faktor penting dalam menentukan nilai sebuah unit klasik.
Suzuki Bravo memiliki posisi unik dalam sejarah Suzuki Indonesia.
Motor ini merupakan bagian terakhir dari perjalanan panjang keluarga RC100 yang berlangsung dari 1986 hingga 2002.
Setelah era motor bebek 2-tak berakhir, Suzuki memasuki periode baru dengan menghadirkan motor-motor 4-tak yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan regulasi emisi.
Suzuki Bravo memang bukan motor dengan teknologi paling canggih. Namun, motor ini memiliki sesuatu yang sulit ditawarkan sepeda motor modern: karakter.
Mesin 2-tak 99,6 cc, teknologi Jet Cooled, bobot ringan, transmisi manual empat percepatan serta desain sederhana menjadikannya salah satu motor bebek yang memiliki tempat khusus dalam sejarah otomotif Indonesia.
Kini, ketika motor 2-tak semakin jarang terlihat di jalan raya, suara khas Suzuki Bravo justru menjadi pengingat sebuah era ketika motor bebek kecil dengan mesin sederhana mampu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Bagi penggemar motor klasik, Suzuki Bravo bukan sekadar kendaraan tua. Ia adalah potongan sejarah dari kejayaan motor bebek 2-tak Suzuki di Indonesia.