BANDAR LAMPUNG - Huawei akhirnya merilis smartwatch terbaru mereka di pasar Indonesia melalui perangkat Huawei Watch FIT 5 Pro. Jam tangan pintar ini hadir membawa desain premium, fitur kesehatan lebih lengkap, hingga kemampuan olahraga yang semakin canggih.
Huawei tetap mempertahankan desain kotak minimalis khas seri Watch FIT. Namun, kali ini perangkat dibekali sederet fitur “pro” yang fokus pada pemantauan kesehatan pengguna.
Salah satu fitur unggulannya adalah Diabetes Risk Study, teknologi pelacakan kesehatan yang diklaim menjadi terobosan baru di perangkat wearable modern.
Bagi pengguna yang mencari smartwatch elegan dengan baterai tahan lama dan fitur kesehatan lengkap, Huawei Watch FIT 5 Pro menjadi salah satu opsi menarik di kelas premium.
Desain Premium dengan Material Titanium
Huawei Watch FIT 5 Pro tampil stylish dengan material bodi Seven-series aviation grade aluminium dan paduan titanium murni yang membuatnya terasa kokoh sekaligus ringan digunakan sehari-hari.
Khusus varian warna putih, Huawei melapisi bodi perangkat menggunakan ceramic coating. Lapisan ini diklaim membuat struktur perangkat 30 persen lebih kuat dibanding material biasa.
Pada sisi kanan bodi terdapat rotating crown yang responsif dan nyaman diputar. Huawei juga menambahkan tombol fungsi tambahan yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pengguna.
Untuk sektor layar, smartwatch ini menggunakan panel AMOLED 1,92 inci dengan bezel tipis yang terlihat modern dan premium.
Tingkat kecerahan maksimalnya mencapai 3.000 nits sehingga tampilan layar tetap jelas saat digunakan di bawah sinar matahari langsung.
Pelopor Fitur Deteksi Risiko Diabetes
Salah satu nilai jual utama Huawei Watch FIT 5 Pro adalah fitur Diabetes Risk Study yang berfokus pada pemantauan risiko diabetes.
Sensor di bagian bawah jam akan memantau pola gerakan tubuh dan ritme pernapasan pengguna selama tiga hingga 14 hari.
Sistem algoritma kemudian menganalisis data metabolisme tubuh dan menghasilkan persentase tingkat risiko diabetes. Hasil tersebut bukan berupa kadar gula darah, melainkan indikator potensi risiko kesehatan.