BENGKULU UTARA – Penemuan sesosok jenazah pria tanpa identitas di pesisir Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, menjadi petunjuk baru di tengah pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa jenazah tersebut merupakan salah satu dari delapan orang yang hilang saat melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Jenazah ditemukan warga di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, pada Sabtu 12 September 2026 sore.
Informasi penemuan kemudian diteruskan kepada Basarnas Bengkulu dan aparat kepolisian untuk proses evakuasi serta identifikasi.
Polda Bengkulu selanjutnya melakukan autopsi terhadap jenazah yang belum diketahui identitasnya tersebut.
Jenazah dievakuasi dari Pulau Enggano menuju Kota Bengkulu menggunakan pesawat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Imam Wijayanto mengatakan, proses autopsi dilakukan untuk mengungkap identitas sekaligus penyebab kematian korban.
Polisi juga berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk mendapatkan informasi dan sampel pembanding dari keluarga rombongan jurnalis yang masih dalam pencarian.
Berdasarkan pemeriksaan awal, jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi sekitar 165 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 50 tahun. Kondisi wajah korban disebut mengalami kerusakan.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil pencocokan DNA antara jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano dengan sampel keluarga para korban yang telah dikumpulkan.
"Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak. Kita akan melakukan pencocokan," kata Maruli, Senin 14 September 2026, dikutip dari media Tempo.co.
Meski memiliki sejumlah ciri yang telah diketahui dari pemeriksaan awal, kepolisian belum memastikan apakah jenazah tersebut memiliki keterkaitan dengan rombongan jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda.