LAMPUNG UTARA – Uji coba model prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Abung Semuli, Kabupaten Lampung Utara, selama dua hari masih menemukan sejumlah kendala minor. Berbagai persoalan tersebut kini menjadi bahan evaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menyempurnakan penerapan sistem penyajian makanan tersebut.
Beberapa kendala yang menjadi perhatian meliputi antrean siswa yang berpotensi memangkas waktu istirahat, kebutuhan penambahan fasilitas pendukung di sekolah, hingga risiko higienitas makanan saat peserta didik mengambil hidangan secara mandiri.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Lampung Utara, Anggi Prasetyo, mengatakan sejumlah kendala tersebut masih dalam tahap mitigasi. Hal itu disampaikannya saat merespons pertanyaan wartawan, Jumat (30/10/2026).
Menurut Anggi, pengaturan antrean menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan agar proses pengambilan makanan tidak mengganggu waktu istirahat maupun aktivitas belajar siswa.
"Kendala minor MBG prasmanan yang masih kami coba mitigasi, yakni antrean yang memakan waktu istirahat siswa, beban penambahan fasilitas seperti meja panjang di sekolah, serta risiko higienitas," terang Anggi.
Ia menjelaskan, berbagai kendala tersebut masih dapat ditangani melalui evaluasi dan penyesuaian teknis di lapangan. Upaya tersebut diperlukan agar penerapan model prasmanan dapat berjalan lebih efektif tanpa mengurangi kenyamanan peserta didik sebagai penerima manfaat program MBG.
Selain persoalan antrean dan fasilitas, aspek kebersihan makanan juga menjadi perhatian penting. Sebab, sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan secara mandiri sehingga diperlukan pengawasan untuk memastikan proses penyajian dan pengambilan makanan tetap memenuhi prinsip higienitas.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pihak SPPG telah menyiapkan petugas khusus yang bertugas mengawasi proses pengambilan makanan oleh siswa.
"SPPG sudah menyiapkan dua petugas dari pemorsian sebagai pengawas. Ke depan, kami coba usulkan untuk adanya pengawas sanitarian," jelasnya.
Selain pengawasan langsung oleh petugas, SPPG juga akan mengoptimalkan peran ahli gizi dalam memberikan edukasi kepada peserta didik penerima manfaat. Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan, mulai dari mengambil hingga mengonsumsi makanan.
"Ahli gizi juga ikut berperan penting melakukan edukasi higienitas kepada peserta didik penerima manfaat," tandasnya.
Melalui evaluasi tersebut, SPPG Lampung Utara berharap penerapan model prasmanan dalam program MBG dapat semakin optimal, baik dari sisi efektivitas pelayanan, kenyamanan siswa, maupun standar kebersihan makanan yang disajikan.