BANDAR LAMPUNG – Kebiasaan melakukan gerakan tangan secara berulang selama bekerja dapat memicu gangguan kesehatan yang kerap tidak disadari.
Salah satunya Carpal Tunnel Syndrome (CTS), kondisi yang dapat menyebabkan nyeri, kesemutan, hingga melemahnya genggaman tangan apabila tidak ditangani dengan tepat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mengingatkan masyarakat, khususnya pekerja dengan aktivitas yang banyak melibatkan pergelangan tangan, agar lebih mengenali gejala dan faktor risiko sindrom tersebut.
Carpal Tunnel Syndrome merupakan gangguan akibat tertekannya saraf median di area terowongan karpal pada pergelangan tangan. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu fungsi saraf dan menimbulkan sejumlah keluhan, mulai dari rasa tidak nyaman hingga penurunan kemampuan tangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejala yang umum dialami penderita antara lain nyeri, kesemutan, mati rasa, serta berkurangnya kekuatan tangan dan jari. Keluhan biasanya muncul pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, serta sebagian jari manis.
Pada kondisi tertentu, rasa nyeri di pergelangan tangan juga dapat menjalar hingga lengan. Keluhan kesemutan dan mati rasa bahkan sering terasa lebih berat pada malam hari atau setelah melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan tangan secara berulang.
Jika terus berlanjut, CTS dapat menyebabkan melemahnya kemampuan menggenggam. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti mengancingkan pakaian, memegang benda kecil, hingga melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian jari menjadi lebih sulit.
"Gangguan seperti CTS ini sering kali tidak disadari sejak dini oleh para pekerja, padahal dampaknya bisa sangat mengganggu produktivitas harian," ujar Muhtadi, Rabu 4 November 2026.
Menurut Muhtadi, salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko CTS adalah kebiasaan melakukan gerakan tangan yang sama secara berulang dalam waktu lama. Aktivitas tersebut dapat memberikan tekanan berlebih pada area pergelangan tangan, terutama jika dilakukan tanpa jeda istirahat yang cukup.
Posisi pergelangan tangan yang tidak netral juga menjadi faktor pemicu. Kebiasaan menekuk pergelangan terlalu ke atas atau ke bawah saat bekerja dapat meningkatkan tekanan pada saraf median.
Selain pola aktivitas dan posisi kerja, beban pekerjaan serta kondisi kesehatan individu turut mempengaruhi risiko terjadinya CTS. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan meliputi usia 30 hingga 60 tahun, obesitas, diabetes, serta arthritis.
Untuk mengurangi risiko gangguan tersebut, Dinkes Bandar Lampung mengimbau masyarakat mulai menerapkan kebiasaan kerja yang lebih ergonomis. Penyesuaian posisi tubuh dan peralatan kerja menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan pergelangan tangan.