Pendidikan menjadi modal utama dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, setiap upaya memperbaiki kualitas pendidikan sejatinya adalah investasi untuk masa depan Bandar Lampung.
Tantangan serupa juga dihadapi sektor kesehatan. Sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi, kebutuhan layanan kesehatan di Bandar Lampung terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
Saat ini, Bandar Lampung memiliki puluhan puskesmas, puskesmas pembantu, serta rumah sakit dengan jumlah tenaga kesehatan yang terus bertambah.
Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, satu puskesmas rata-rata melayani puluhan ribu jiwa. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan layanan kesehatan primer agar lebih optimal menjangkau masyarakat.
Selain itu, pemerataan layanan kesehatan juga masih menjadi tantangan.
Fasilitas kesehatan dengan layanan lengkap cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara kawasan pinggiran kota masih membutuhkan peningkatan akses dan kualitas pelayanan.
Asroni menilai, kesehatan merupakan investasi sosial yang sangat strategis. Masyarakat yang sehat akan lebih produktif dan mampu berkontribusi optimal terhadap pembangunan daerah.
Karena itu, pembangunan sektor kesehatan tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang.
Ia menyoroti pentingnya pengakuan Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam RPJMD 2025–2029 yang menetapkan pemenuhan pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan sebagai isu strategis pembangunan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penguatan pelayanan dasar telah menjadi agenda resmi pemerintah daerah.
Memasuki usia ke-344 tahun, Asroni mendorong agar arah pembangunan Bandar Lampung semakin berorientasi pada pembangunan yang berpusat pada manusia.
