Satelit Lampung-1 Resmi Mengorbit, Dukung Pertanian dan Pembangunan Berbasis AI di Lampung

Lampung-1 mengorbit sebagai hasil kerja sama Lampung-Shandong. Data satelit akan diolah bersama BRIN untuk mendukung pembangunan berbasis teknologi.
Krisna Jeri - Rabu, 05 Agt 2026 - 21:04 WIB
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyaksikan langsung peluncuran satelit hiperspektral Lampung-1 di Shandong, Tiongkok, sebagai bagian kerja sama internasional untuk mendukung pembangunan daerah berbasis teknologi.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyaksikan langsung peluncuran satelit hiperspektral Lampung-1 di Shandong, Tiongkok, sebagai bagian kerja sama internasional untuk mendukung pembangunan daerah berbasis teknologi. - Istimewa

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

Advertisements

Sektor pertanian menjadi fokus awal pemanfaatan satelit Lampung-1.

Teknologi hiperspektral diharapkan mampu membantu pemetaan lahan pertanian, memantau kondisi tanaman, mendeteksi kekurangan air, mengidentifikasi gangguan tanaman secara dini, hingga memperkirakan potensi hasil panen.

Salah satu komoditas yang masuk dalam tahap eksplorasi awal adalah singkong.

Selain mendukung pertanian, data satelit juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan, pemantauan wilayah pesisir dan kelautan, mitigasi banjir serta kekeringan, pemantauan perubahan tutupan lahan, hingga mendukung pembangunan yang lebih presisi.

Advertisements

"Teknologi ini bukan menggantikan petani. Teknologi ini membantu petani dan pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran," ujar Rahmat Mirzani Djausal.

Lampung-1 dikembangkan sebagai satelit hiperspektral yang telah dilengkapi teknologi kecerdasan artifisial untuk membantu proses awal pengolahan data langsung di orbit.

Dengan teknologi tersebut, data yang dikirim ke bumi dapat dipilah lebih cepat sehingga mempercepat proses analisis menjadi informasi yang siap dimanfaatkan.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan satelit masih harus melewati tahapan pemeriksaan sistem, stabilisasi orbit, kalibrasi sensor, pengujian muatan, serta validasi kualitas data sebelum digunakan secara optimal.

Advertisements

"Keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika roket mencapai orbit, tetapi ketika teknologi yang dibawanya benar-benar membantu menyelesaikan tantangan pembangunan di daerah," kata Rahmat Mirzani.

Kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan talenta Indonesia di bidang teknologi satelit dan penginderaan jauh.

Sejumlah pelajar Indonesia, peneliti BRIN, personel Telkom, hingga aparatur sipil negara Pemerintah Provinsi Lampung memperoleh kesempatan belajar di lingkungan STAR.VISION Aerospace.

Perusahaan tersebut juga melibatkan insinyur asal Indonesia, termasuk lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam pengembangan teknologi satelit dan berbagai solusi antariksa.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements