Rumah sakit tersebut didukung 325 pegawai, termasuk 15 dokter spesialis dan subspesialis.
Di antaranya terdapat subspesialis kedokteran jiwa konsultan anak dan remaja serta subspesialis kedokteran jiwa geriatri.
Selain itu, terdapat tujuh psikiater, dokter spesialis saraf, penyakit dalam, radiologi, anak, patologi klinik, anestesi dan terapi intensif, 12 dokter umum, dua dokter gigi, serta lima psikolog.
Rumah sakit juga telah memiliki sejumlah peralatan kesehatan khusus, di antaranya Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) dan quantitative Electroencephalography (qEEG).
Hellen mengatakan pengembangan rumah sakit ke depan akan diarahkan pada perluasan akses dan cakupan pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan layanan unggulan kesehatan jiwa, serta penguatan sistem rujukan dan jejaring pelayanan.
Transformasi digital dan tata kelola pelayanan juga menjadi bagian dari strategi pengembangan rumah sakit.
Sejumlah inovasi layanan telah dikembangkan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, antara lain Hello Care, Curhat Yuk, Lentera Nabza, Sobat Jiwa, Rojana, dan Genzi.
Dari sisi tata kelola, rumah sakit tersebut meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2025.
Capaian tersebut menjadi modal untuk terus memperkuat pelayanan yang transparan, akuntabel, berintegritas, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Kinerja pengelolaan BLUD juga disebut mengalami peningkatan. Pendapatan BLUD rumah sakit mencapai sekitar Rp26 miliar, meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran Rp13 miliar ketika Gubernur Mirza masih menjadi anggota DPRD Provinsi Lampung.
Bagi keluarga besar Alamsyah Ratu Perwiranegara, penggunaan nama tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengabdian yang diteruskan melalui pelayanan kesehatan kepada masyarakat.